Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lebih Mahal dari Daging, Harga Cabai di Berau Tembus Rp 300 Ribu

Redaksi Prokal • 2026-03-25 12:35:00

PASOKAN TERBATAS: Harga cabai di Pasar SAD sempat melonjak hingga Rp 300 ribu per kilogram setelah Lebaran. (IZZA/BP)
PASOKAN TERBATAS: Harga cabai di Pasar SAD sempat melonjak hingga Rp 300 ribu per kilogram setelah Lebaran. (IZZA/BP)

 

TANJUNG REDEB – Kondisi harga kebutuhan pokok di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD) tengah menjadi sorotan tajam setelah harga cabai rawit meroket hingga menyentuh angka Rp 300 ribu per kilogram. Lonjakan yang terjadi pasca-Lebaran ini mencapai lebih dari 100 persen dibandingkan harga sebelumnya yang berkisar di angka Rp 130 ribu. Kenaikan drastis ini sontak membuat para ibu rumah tangga di Berau terkejut dan harus memutar otak demi menjaga dapur tetap ngebul tanpa menguras kantong terlalu dalam.

Mira, salah seorang warga Tanjung Redeb, mengaku sangat kaget saat mengetahui harga eceran di pasar sudah tidak masuk akal. Akibat harga yang melambung tinggi, ia terpaksa membatasi pembelian dan hanya mampu membawa pulang satu ons cabai seharga Rp 30 ribu. Menurutnya, meski dompet terasa "menjerit", cabai tetap harus dibeli karena merupakan kebutuhan mendesak untuk bumbu masakan harian, walaupun jumlahnya kini sangat terbatas.

Keluhan senada juga datang dari Atun, warga lainnya yang ikut merasakan dampak kenaikan harga sayur-mayur. Ia merasa sedikit beruntung karena memiliki tanaman cabai sendiri di kebun rumah yang cukup membantu mengurangi beban belanjaan. Atun pun menaruh harapan besar agar pemerintah segera mengambil langkah tegas untuk mengatur pasokan komoditas penting ini. Ia berharap stabilitas harga tidak hanya dijaga menjelang Lebaran saja, tetapi juga dipantau secara konsisten setelah masa hari raya berakhir agar tidak terjadi lonjakan mendadak yang memberatkan rakyat kecil.

Dari sisi pedagang, Mujiati menjelaskan bahwa melambungnya harga ini dipicu oleh sangat terbatasnya pasokan dari daerah penghasil, sementara permintaan masyarakat justru sedang meningkat. Ia mengungkapkan bahwa harga Rp 300 ribu per kilogram sempat terjadi pada awal pekan, tepatnya Senin (23/3) kemarin, meski pada hari berikutnya harga mulai sedikit bergeser ke angka Rp 200 ribu per kilogram di tingkat eceran. Para pedagang pun berharap distribusi pasokan bisa kembali normal secepatnya agar daya beli masyarakat pulih dan harga tidak lagi membengkak. (*)

Editor : Indra Zakaria