PROKAL.CO, BERAU-Warga Kampung Giring-Giring di wilayah pesisir Kecamatan Bidukbiduk, Kabupaten Berau, harus menghadapi tantangan ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau.
Intrusi air asin dan keterbatasan kapasitas sumber air menjadi persoalan yang
dapat menghambat kebutuhan penyiraman tanaman bagi warga yang memiliki perkebunan.
Berdasarkan hasil observasi lapangan, petani mengalami masalah pada stok ketersediaan air dan sering mengalami kekurangan air terutama pada saat musim kemarau.
Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM Bidukbiduk Berlabuh 2026
menghadirkan inovasi Penampungan Air Hujan (PAH) yang terintegrasi dengan sistem irigasi tetes sebagai alternatif pengelolaan air untuk perkebunan.
Baca Juga: Kepungan Asap Karhutla Lumpuhkan Bandara Supadio, 21 Penerbangan Terganggu
Tim memulai proses perakitan prototipe PAH yang nantinya juga turut melakukan demonstrasi menggunakan prototipe PAH untuk memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Sistem tersebut dilengkapi dengan penyaringan bertahap yang terdiri atas penyaringan daun, debu kasar, dan debu halus untuk menjaga kualitas dan keamanan penyimpanan air sebelum akhirnya air dialirkan menuju tempat penampungan.
Air yang telah tertampung kemudian dapat dialirkan menuju sistem irigasi tetes secara terkendali.
Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, sistem ini dapat mendistribusikan air tanpa bergantung pada penggunaan listrik sehingga lebih sederhana dan sesuai untuk diterapkan pada lahan perkebunan.
Tahap demonstrasi dan sosialisasi dilaksanakan di BPU Kampung Giring-Giring pada 24 Juli 2026.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada mekanisme kerja PAH sekaligus melihat secara langsung bagaimana air hasil tampungan dialirkan melalui sistem irigasi tetes pada miniatur lahan.
Peserta juga berkesempatan mencoba mengoperasikan katup dan mengamati distribusi air menuju tanaman.
Penggunaan miniatur ini menjadi salah satu upaya untuk mempermudah masyarakat dalam memahami penerapan teknologi PAH dan irigasi tetes secara nyata. Kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari Pemerintah Kampung Giring-Giring.
Sekretaris Desa Giring-Giring, Ardi, menilai penggunaan miniatur prototipe dalam sosialisasi tahun ini menjadi nilai tambah karena membantu masyarakat memahami secara langsung mekanisme kerja PAH.
Selain berfungsi sebagai media edukasi, prototipe tersebut juga dapat menjadi contoh penerapan teknologi pemanfaatan air hujan yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
Keberadaan PAH diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk mitigasi dalam menghadapi potensi kekeringan, khususnya ketika terjadi keterbatasan sumber air pada musim kemarau.
Melalui program Manufaktur Prototipe Alat Penampung Air Hujan (PAH) yang Terintegrasi dengan Sistem Irigasi Tetes, mahasiswa KKN-PPM UGM tidak hanya menghasilkan sebuah prototipe, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan mengenai konservasi air kepada masyarakat.
Baca Juga: Liburan ke Danau Labuan Cermin Sekarang Semakin Nyaman, Ada Panduan Spot-spotnya
Dukungan pemerintah kampung terhadap inovasi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan dan replikasi teknologi oleh kelompok tani, sehingga pemanfaatan air hujan dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan perkebunan dan ketahanan air di wilayah pesisir Kampung Giring-Giring.
Hidroponik Ramah Lingkungan
Sementara itu, di Kampung Bidukbiduk, Kecamatan Bidukbiduk, mahasiswa KKN-PPM UGM lainnya menggelar sosialisasi dan edukasi pembuatan sistem hidroponik ramah lingkungan pada 29 Juni 2026.
Agenda ini sebagai bagian dari upaya mendorong ketahanan dan kemandirian pangan di wilayah pesisir.
Program kerja ini secara khusus menyasar masyarakat pesisir guna memberikan solusi aplikatif atas keterbatasan dalam bercocok tanam konvensional yang kerap dihadapi di wilayah pesisir, terutama terkait struktur tanah berpasir serta tingginya salinitas air laut dan payau.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen SDG 2 (tanpa kelaparan) dan SDG
12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung Jawab). Tantangan utama pemenuhan kebutuhan sayuran hijau di pesisir Bidukbiduk adalah minimnya unsur hara tanah dan kadar garam air yang menghambat pertumbuhan tanaman.
Mahasiswa KKN-PPM UGM menginisiasi inovasi budidaya hidroponik berskala rumah tangga berbasis wick system (sistem sumbu) yang mengintegrasikan pemanfaatan limbah galon atau botol bekas dengan teknik pemanenan air hujan (rainwater harvesting).
Melalui pendekatan ini, air hujan yang bebas salinitas dimaksimalkan sebagai media nutrisi tanaman, sekaligus mereduksi limbah plastik di lingkungan kampung pesisir.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai prinsip dasar fisiologi
tanaman hidroponik, keunggulan wick system yang hemat biaya dan tanpa listrik, pemilihan jenis sayuran cepat panen (seperti kangkung, sawi, dan selada), hingga manajemen penakaran larutan nutrisi dan perawatan harian.
Baca Juga: Mahasiswa KKN UGM Petakan Cadangan Karbon Teluk Sulaiman di Berau, Dukung Perlindungan Hutan
Paparan kemudian dilanjutkan dengan sesi demonstrasi dan praktik langsung perakitan modul hidroponik. Warga tampak sangat antusias berpartisipasi merakit media tanam dari barang bekas, meracik nutrisi AB Mix, menyemai benih, hingga memindahkan bibit ke dalam netpot.
"Inovasi hidroponik dengan memanfaatkan galon bekas dan air hujan ini membuka wawasan baru bagi warga kami. Sekarang keterbatasan tanah berpasir dan air payau bukan lagi kendala untuk bisa memanen sayuran segar sendiri di pekarangan rumah secara hemat dan sehat," ungkap salah seorang warga Kampung Bidukbiduk.
Melalui transfer pengetahuan teknologi pertanian ramah lingkungan dan pemanfaatan sumber daya lokal, diharapkan masyarakat tidak lagi memandang
keterbatasan geografis pesisir sebagai halangan untuk mewujudkan kemandirian pangan
keluarga.
Keberlanjutan sistem hidroponik sederhana ini diharapkan terus direplikasi oleh
warga demi terciptanya ketahanan pangan pesisir yang tangguh, mandiri, dan berwawasan
lingkungan di masa depan. (*)