Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sektor Perbelanjaan Butuh Relaksasi

izak-Indra Zakaria • 2020-05-06 14:25:17
Sama seperti sektor lainnya, pengelola pusat perbelanjaan juga menantikan adanya relaksasi dari pemerintah.
Sama seperti sektor lainnya, pengelola pusat perbelanjaan juga menantikan adanya relaksasi dari pemerintah.

SAMARINDA - Sama seperti sektor lainnya, pengelola pusat perbelanjaan juga menantikan adanya relaksasi dari pemerintah. Sebab hingga saat ini traffic kunjungan terus tergerus seiring berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah. Kondisi ini membuat para tenant kesulitan membayar sewa. Bahkan beberapa tenant memilih masih menutup gerainya.

General Manager BIGMall Samarinda Sendek A Prawinko menjelaskan, saat ini kondisi perbelanjaan juga mengalami penurunan kinerja. Seiring penurunan traffic pengunjung, tenant-tenant merasakan penurunan penjualan. "Hampir semua terkena imbas baik tenant kecil, sedang, dan besar. Kami selaku pengelola mal tentunya turut merasakan hal tersebut," ujarnya, Selasa (5/5).

Sendek mengungkapkan, traffic kunjungan saat ini berkisar di angka 6 ribu. Ini merupakan angka yang sangat rendah jika dibandingkan saat kondisi normal yaitu berkisar di angka 25-30 ribu. Di BIGMall, saat ini ada 15 tenant yang memilih tutup sementara, serta 10 tenant kecil memutuskan mundur. "Jadi ada yang putus kontrak dan ada yang memilih tutup sementara," ucapnya.

Dalam kondisi tersebut, pihaknya mulai kesulitan membayar listrik lantaran tenant-tenant sedang kesusahan dan banyak belum bayar uang sewa. "Jadi kita juga minta keringanan, karena kami juga diminta memberi keringanan ke tenant," jelasnya.

Sendek mengungkapkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak PLN melalui Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) untuk meminta keringanan pembayaran serta penundaan sementara pembayaran tarif. "Sebanyak tiga kali, namun PLN masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat," ungkapnya.

Salah satu penjual makanan ringan di BIGMall, Rima mengungkapkan, penurunan penjualan selama masa pandemic sangat terasa. Biasanya omzet per hari bisa mencapai Rp 5 juta, namun kini hanya berkisar di angka Rp 80-100 ribu. "Jadi kami memutuskan untuk berjualan menggunakan mobil dulu, selain mengurangi beban gaji karyawan juga sewa lokasi. Karena untuk biaya operasional tidak cukup," ujarnya.

Pihak pengelola mal saat ini telah mengajukan keringanan dalam hal pembayaran tagihan listrik, serta memberikan beberapa keringanan kepada tenant. Namun hingga kini belum mendapatkan kepastian dan masih menunggu jawaban pihak terkait. "Intinya kita sama-sama mengharapkan yang terbaik," tutup Sendek. (*/ain/ndu/k18)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim #Bisnis Kaltim