Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bisnis Perhotelan Masih Waswas

izak-Indra Zakaria • 2021-01-26 13:20:31
ilustrasi
ilustrasi

Melonjaknya penyebaran virus corona di Balikpapan akhir-akhir ini membuat pelaku usaha di sektor perhotelan makin waswas. Namun, beberapa di antaranya memanfaatkan peluang yang hadir, dengan memberikan layanan isolasi mandiri.

 

BALIKPAPAN- Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Sahmal Ruhip mengungkapkan rasa prihatinnya melihat angka positif Covid-19 yang terus naik di Kota Beriman. Hal itu dikhawatirkan bisa membuat bisnis perhotelan semakin anjlok.

Apalagi pemerintah daerah telah menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) hingga akhir bulan ini dan mulai melakukan tes rapid antigen bagi masyarakat yang akan masuk Kota Beriman. Ini berpotensi membuat masyarakat luar daerah mengurungkan niatnya berlibur ke Balikpapan. “Awal tahun ini rata-rata okupansi hotel jatuh. Bahkan bisa di angka 10 persen,” ungkapnya, Senin (25/1).

Ia mengatakan, beberapa hotel ada yang membuka kamar untuk isolasi mandiri pasien yang tidak bergejala. Tentu dengan harapan bisa menahan penurunan okupansi. “Tapi tetap perlu diperhatikan protokol kesehatannya. Standar kesehatan juga harus dilihat. Meski tanpa gejala, tetap sama. Mereka ini membawa virus. Jadi, jangan sampai karyawan yang tertular,” ujarnya.

Ia enggan menyebutkan hotel mana saja yang memberikan layanan. Yang pasti terdapat beberapa hotel yang menjadi tempat untuk karantina dan isolasi orang tanpa gejala (OTG). “Ya kalau saya sebutkan tidak baik. Apalagi yang menerima pasien positif. Nanti malah tidak ada tamu yang datang lagi selain pasien,” bebernya. Untuk isolasi mandiri dari karyawan perusahaan juga ada yang menerima.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi sebelumnya mengatakan terdapat dua hotel yang mengajukan sebagai hotel untuk pasien OTG. “Ada dua hotel yang mengajukan lagi, yaitu Novotel dan Gran Senyiur,” ungkapnya.

Kedua hotel tersebut memiliki kamar untuk masyarakat yang menjalankan karantina. Sejauh ini, hotel-hotel lain telah beroperasi untuk menjadi tempat karantina ataupun tempat isolasi. Kebanyakan pasien yang dirawat adalah pasien yang berasal dari perusahaan.

Sales Gran Senyiur Balikpapan Jannah mengatakan, pihaknya melayani permintaan tamu karantina. “Saat ini sudah di-booking semua oleh perusahaan Migas ENI. Jadi, karyawannya yang pulang atau pergi ke site harus melalui karantina dahulu,” katanya.

Direktur Operasional Platinum Hotel Balikpapan Soegianto mengatakan, pihaknya tidak menerima pasien Covid-19 yang isolasi atau karantina. “Ya kami ingin menjaga karyawan juga. Kami menerima tamu yang sehat saja,” bebernya.

Sementara itu, salah satu hotel yang menerima pasien positif yang tidak mau disebutkan melalui salah satu stafnya mengatakan, pihaknya menerima pasien positif yang tanpa gejala atau tidak ada penanganan medis. "Ya ada saja. Kami lihat dulu mereka, hanya terpapar atau bagaimana. kalau terpapar tidak apa, biasanya mereka sudah mendapat obat atau diantar obat dari puskesmas," katanya.

Ketua DPD Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim Adith Raharjo menilai, wajar jika beberapa hotel menyediakan layanan isolasi mandiri. Hanya, di Samarinda belum ada yang melakukan itu. Tentunya hotel yang menyediakan isolasi mandiri tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Intinya prosedur yang harus dilakukan tetap dijalankan dengan benar dan konsisten.

“Wajar saja jika ada hotel yang memberikan layanan isolasi mandiri selama masih dilakukan dalam cara yang benar, saya pikir sah saja. Hotel tentunya juga lebih selektif dalam memilih tamu yang akan melakukan isolasi, misalnya tamu yang tidak terpapar hanya saja baru melakukan perjalanan keluar daerah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, kalau melihat dari sisi ekonomi tentunya wajar beberapa hotel melakukan itu. Sebab, bisnis harus tetap bergerak agar biaya operasional harus berjalan. Namun semuanya kembali ke manajemen hotel masing-masing. Meski ada sebagian hotel yang tidak memberikan layanan isolasi mandiri, dengan alasan jika sebuah hotel itu menerima tamu seperti itu bisa jadi image-nya terganggu.

“Kembali pada masing-masing manajemen, memilih tidak melakukan atau memilih bertahan hidup agar bisnisnya tetap bisa berjalan. Sebab, risiko masing-masing berbeda,” tuturnya.

Menurutnya, beberapa hotel saat ini sudah menerapkan bahwa tamu memiliki bukti free Covid-19. Bisa berupa rapid test atau surat swab test dan lainnya. Hanya beberapa hotel yang menerapkan itu, utamanya untuk tamu yang berasal dari luar daerah. Tujuannya tetap menjaga agar tamu yang diterima benar-benar terjamin kesehatannya dan tidak menularkan virus ke tamu lain.

“Beberapa hotel besar di Samarinda sudah menerapkan, hal itu diharapkan menjadi jaring pengaman bagi hotel-hotel, tapi tidak semua menerapkan,” katanya.

Hal itu, tambahnya, juga menjadi penjamin bahwa hotel-hotel ini aman untuk para tamu. Apalagi di Kaltim sudah ada 30 hotel yang menerima sertifikat cleanliness, health, safety, environmental sustainability (CHSE). Tentunya ini sangat berguna bagi dunia perhotelan. CHSE merupakan program sertifikasi kebersihan, kesehatan, keamanan dan keberlangsungan lingkungan.

“CHSE saya rasa cukup membantu menimbulkan rasa percaya masyarakat. Sebab, untuk mendapatkan sertifikasi tersebut cukup sulit. Tinggal dari manajemen konsisten atau tidak menjalankannya,” pungkasnya. (aji/ctr/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim #hotel