Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sesingal Dipesan hingga Malaysia, Omset Rp 12 Juta per Bulan

uki-Berau Post • Selasa, 22 Februari 2022 - 04:18 WIB
BANYAK PEMINAT: Perajin Sesingal dari Desa Binusan Nunukan, Sujinah tidak pernah menyangka Singal banyak diminati.
BANYAK PEMINAT: Perajin Sesingal dari Desa Binusan Nunukan, Sujinah tidak pernah menyangka Singal banyak diminati.

NUNUKAN – Perajin Sesingal dari Desa Binusan Nunukan bernama Sujinah, tidak pernah menyangka Singal buatannya banyak diminati.

Padahal, niat awalnya hanya ingin membuatkan Sesingal atau ikat kepala khas suku Tidung bagi suami dan anaknya. Untuk perayaan Iraw yang merupakan acara adat. Saat disambangi di rumahnya di Jalan Aji Muda, Desa Binusan, Nunukan, Sujinah terlihat serius menjahit Sesingal menggunakan mesin jahit.

“Ceritanya pada November 2021 itu kan ada acara Iraw di Nunukan. Suami dan anak ingin sekali pakai Sesingal, sudah pesan lama sekali datangnya. Akhirnya minta saya coba buat. Kebetulan saya kerja menjahit bertahun-tahun,” ucap Sujinah, Minggu (20/2). 

Dalam pembuatan Singal tersebut, Sujinah menggunakan kertas kalender dan memanfaatkan kain sisa jahitan. Ia meminjam Singal milik temannya dan terus mencoba menjahit. Meski bongkar pasang demi menghasilkan Sesingal berkualitas.

“Saya dua hari belajarnya. Meski saya penjahit, Singal kan sama sekali baru buat saya. Jadi sempat bongkar jahitan beberapa kali, sampai dapat hasil yang menurut saya sudah bagus,” katanya.

Begitu dua Singal sudah jadi, suami dan anaknya lalu memakainya untuk menghadiri Iraw Tidung Borneo bersatu pada November tahun lalu. Saat itu, suku Tidung dari Malaysia, Brunei dan Filipina, ikut hadir dan meramaikan pesta adat tersebut.

Tak disangka, Sesingal yang keduanya pakai, menarik minat para tetua adat. Mereka akhirnya memesan Sesingal dari Sujinah. Bahkan, untuk dihadiahkan bagi para tamu dari negara lain.

“Begitu ada beberapa ketua adat pesan, banyak juga yang mau. Waktu itu saya sampai membuat ratusan buah Singal dan memutuskan menjadi perajin sekalian. Saya tidak menyangka niat membuatkan suami dan anak, justru jadi peluang usaha di masa pandemi,” ungkapnya. 

Sejak pandemi Covid-19 melanda, Sujinah bersama suami dan anak, fokus pemesanan Sesingal. Pelanggannya bukan hanya di Nunukan, tapi sampai di Tarakan, Bulungan bahkan Malaysia.

Rata-rata dalam sebulan, Sujinah menghabiskan 3 rol bahan kain songket India. Kain tersebut terbilang mewah saat menjadi Singal dan banyak diminati. Dalam 1 rol kain, 27 buah Singal dihasilkan. Jika per Singal dihargai Rp 150 ribu, maka omset Sujinah sebulan sekitar Rp 12.150.000.

“Tergantung pesanan, kalau lagi banyak, bisa lebih. Tapi memang rata-rata sebulan biasanya habis tiga rol kain songket India,” imbuhnya. 

Sujinah juga melayani permintaan pembuatan Singal dengan bahan apa saja. Beberapa waktu lalu, Dinas Pariwisata Nunukan sempat memintanya untuk membuatkan Singal. Dengan bahan batik tulis etnik persatuan Dayak Lulantatibu (Lundayeh, Tagalan, Tahol, Tidung dan Bulungan). 

Sujinah berharap, meski usaha ini masih skala kecil, bisa memiliki andil dalam melestarikan budaya suku Tidung. Singal atau Sesingal, selalu menjadi lambang kebesaran khas Tidung. Dimana ungkapan ”Utok no benawod de Sesingal” yang berarti apapun kegiatan laki-laki suku Tidung, kepalanya harus selalu diikat dengan Sesingal.

“Kami masih bisnis kecil-kecilan. Untuk mengurus izin usaha belum ada. Ini usaha dadakan dan muncul begitu saja di saat pandemi dan kami kebingungan pekerjaan,” tuturnya. (*/lik/*/viq/uno) 

Editor : uki-Berau Post
#ekonomi