Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Produksi Konsentrat Freeport Turun

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-11 08:01:14

JAKARTA – Produksi konsentrat PT Freeport Indonesia tahun ini akan merosot menjadi 1,2 juta ton dari 2 juta ton pada 2018. Penurunan tersebut disebabkan adanya transisi perubahan skema pertambangan terbuka menjadi tambang di bawah tanah. Kendati demikian, produksi akan kembali naik pada 2020 dan puncaknya pada 2025, setelah beroperasinya tambang bawah tanah.

”Perubahan dari tambang terbuka ke tambang di bawah tanah ada proses. Ada (pembangunan) infrastruktur, bikin jalan, dan lain sebagainya menjadikan produksinya turun 1,2 jutaan konsentrat,” papar Direktur Mineral Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak, Rabu (9/1).

Penurunan produksi itu turut membuat ekspor konsentrat perseroan anjlok. Pada 2018 Freeport mengekspor 1,2 juta ton konsentrat tembaga. Sisanya, 800 ribu konsentrat tembaga, diolah di PT Smelting, Gresik, Jawa Timur. Tahun ini ekspor konsentrat tembaga Freeport hanya 200 ribu ton. Sisa 1 juta ton konsentrat diolah dan dimurnikan di PT Smelting.

Penurunan produksi juga memengaruhi pendapatan Freeport Indonesia menjadi USD 3,14 miliar pada 2019. Turun hampir setengah dari prognosis pendapatan PT FI 2018 sebesar USD 6,52 miliar. Jumlahnya kembali naik pada 2021 dengan proyeksi pendapatan mencapai USD 5,12 miliar. Pendapatan PT FI baru bisa mencapai USD 6 miliar pada 2022. Setelah itu, pendapatan akan stabil, bahkan bisa menembus di atas USD 7 miliar.

Pengolahan dan pemurnian konsentrat tembaga menjadi salah satu kewajiban Freeport Indonesia demi mengantongi izin ekspor. Saat ini pemerintah belum memberikan surat persetujuan ekspor (SPE) yang berakhir pada 15 Februari mendatang. “SPE keluar berdasar pertimbangan cadangannya, based on RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) yang diajukan,” kata Yunus.

Selain itu, pemerintah melihat perkembangan pembangunan smelter yang dijanjikan Freeport. “Bila sudah 90 persen dari kemajuan yang dijanjikan, akan disetujui lakukan ekspor,” ujar Yunus. Rencananya, smelter berkapasitas 2 juta ton itu dibangun di Gresik dengan investasi senilai USD 2 miliar. (vir/jpg/ndu/k15)

Editor : wahyu-Wahyu KP