JAKARTA– Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dihantui dampak pandemi Covid-19. Akibatnya, risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi pil pahit yang harus dihadapi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan, apabila pandemi terus memburuk, maka ekonomi bisa terkontraksi atau tumbuh negatif. Dalam skenario berat, ekonomi hanya tumbuh 2,35 persen. Sementara dalam skenario sangat berat bisa -0,4 persen.
‘’Baseline kita di 5,3 persen akan mengalami tekanan, turun pertumbuhannya sampai di level 2,3 persen. Bahkan di situasi sangat berat mungkin juga menurun sampai negative growth,’’ ujarnya melalui video conference di Jakarta, kemarin (14/4).
Ani menjelaskan, pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 0,3 persen hingga -2,6 persen. ‘’Kuartal kedua 2020 merupakan periode terberat untuk perekonomian Indonesia,’’ imbuhnya.
Tekanan itu diproyeksi masih akan berlanjut hingga kuartal III tahun ini. Meski, dia masih optimistis ekonomi bisa merangkak naik pada kuartal IV tahun ini. Pada kuartal III 2020, ekonomi diharapkan bisa tumbuh di kisaran 1,5 persen sampai 2,8 persen.
Tetapi, jika pandemi ini berlanjut cukup lama, maka kondisinya akan berbeda lagi. Bahkan, ekonomi Indonesia bisa dihadapkan pada kondisi resesi.
‘’Di mana dua kuartal berturut-turut Indonesia PDB-nya bisa negatif. Ini yang sedang kita upayakan untuk tidak terjadi. Memang sangat berat namun ini adalah dalam menghadapi kondisi yang luar biasa dan kita coba untuk atasi,’’ urai mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.
Agar kondisi itu tak terjadi, pemerintah akan tetap memperkuat APBN dalam tiga prioritas utama. Di antaranya yakni sektor kesehatan, jaring pengaman sosial (social safety net), dan dukungan kepada dunia usaha.
Dengan berbagai kondisi berat yang dihadapi saat ini, Ani menyebut pertumbuhan ekonomi akan bisa membaik di target 4,5 persen sampai 5,5 persen. Proyeksi itu juga sudah mempertimbangkan perubahan baseline pada 2020. ‘’Outlook 2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan di range 4,5 sampai 5,5 persen dan inflasi 2-4 persen,’’ tambahnya.
Pandemi Covid-19 benar-benar memukul perekonomian dunia. Pertumbuhan ekonomi dunia hampir pasti anjlok, bahkan diprediksi menjadi negatif. proyeksi itu kemarin (14/4) menjadi salah satu bahasan utama dalam sidang kabinet paripurna virtual yang dipimpin Presidne Joko Widodo dari Istana Bogor.
Menurut Presiden, tidak bisa tidak, perekonomian Indonesia juga akan terdampak. ’’Kita harus berbicara apa adanya. Target pembangunan dan pertumbuhan ekonomi 2020 akan terkoreksi cukup tajam,’’ ujarnya. hampir semua negara di dunia juga akan mengalaminya.
Berbagai lembaga Internasional, baik IMF, Bank Dunia dan lembaga lainnya sudah memprediksi ekonomi global 2020 akan memasuki periode resesi. ’’Hitung-hitungan terakhir yang saya terima, ekonomi global bisa tumbuh negatif -2,8 persen,’’ lanjutnya.
Karena itu, Indonesia harus menyiapkan diri dengan berbagai skenario. Harus tetap ada upaya pemulihan, baik di sektor kesehatan maupun ekonomi dengan bekerja keras. Dia meyakinkan bahwa Indonesia pasti bisa kembali pulih setelah pandemi berlalu. ’’Insya Allah kita bisa (pulih),’’ tambahnya. (dee/byu)
Editor : izak-Indra Zakaria