Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tidak Perlu Khawatir Tanggapi Peringatan IMF

izak-Indra Zakaria • 2020-04-23 13:11:57
Photo
Photo

JAKARTA– Gubernur Bank Indonesia Perry (BI) Warjiyo menyebut tidak perlu panik menanggapi peringatan International Monetary Fund (IMF). Stimulus fiskal, moneter, inflasi rendah, serta PSBB (pembatasan sosial berskala besar) mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia 2,3 persen tahun ini.

Perry yakin sentiment pandemi Covid-19 bersifat sementara. Dia percaya ada pemulihan setelah penurunan. Dengan demikian, akan membentuk pola v-shape pada kurva ekonomi. ”Penerapan PSBB di berbagai daerah akan memendekkan pola v-shape tersebut. Tidak terlalu lama dalam masa sulit dan mempercepat proses pemulihan,” katanya dalam konferensi pers virtual kemarin.

Untuk mempercepat proses pemulihan, pemerintah sudah menaikkan defisit fiskal menjadi 5,07 persen. Selain itu, menambah jumlah anggaran untuk penanganan kesehatan dan program penyangga sosial. Seperti, meningkatkan produksi alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, suplai vitamin, bantuan sembako maupun tunai, penurunan suku bunga acuan, hingga keringanan kredit.

Berdasarkan survei pemantauan harga hingga pekan ketiga April menunjukkan harga barang di pasar relative rendah dan terkendali. Perry memperkirakan, inflasi bulan ini sekitar 0,22 persen mont to month (mom). Sedangkan, inflasi tahunan sekitar 2,82 persen.

”Komoditas penyumbang inflasi yakni bawang merah, emas perhiasan, dan gula pasir,” papar pria asal Sukoharjo tersebut.

Perry memastikan inflasi selama Ramadhan dan Idul Fitri rendah. ”Lebih rendah secara historis selama ini,” imbuhnya. Sebab, selama April hingga Mei adalah masa panen. Praktis, pasokan bahan pokok cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Permintaan masyarakat juga akan lebih rendah selama penerapan PSBB di beberapa daerah.

Sementara itu, BI mencatat aliran modal asing yang masuk sebesar Rp 4,37 triliun sejak 13 sampai 20 April. Mayoritas aliran modal asing tersebut diperoleh dari pembelian surat berharga negara (SBN) Indonesia. Meski demikian, saham mecatatkan aliran modal keluar (outflow) Rp 2,8 triliun dari saham.

Perry menuturkan, imbal hasil (yield) investasi SBN Indonesia cukup menarik bagi pemodal asing. ”Diukur dari yield spread sebesar 7,1 persen atau 713 bps antara obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun dengan US treasury 10 tahun. Serta, yield secara riil sebesar 4,6 persen,” beber alumnus Iowa State University, AS, itu. Imbal hasil tersebut lebih tinggi disbanding India, Meksiko, dan negara Asia lainnya.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, langkah pemerintah sudah tepat. Meski demikian, lanjut dia, implementasi stimulus tersebut akan berjalan lancar seiring pembatasan mobilitas manusia.

pengetatan mobilitas manusia secara masif dapat mempercepat proses selesainya wabah. ”Dengan adanya pembatasan ini, diperkirakan pemulihan ekonomi akan lebih cepat. Di sekitar akhir Q3 hingga kuartal Q4,” papar Josua. (han)

Editor : izak-Indra Zakaria
#ekonomi nasional