Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bangun Istana, Bermanfaat ke Sesama

izak-Indra Zakaria • Selasa, 23 Juni 2020 - 01:16 WIB
Syamsudin Hamade
Syamsudin Hamade

Lahir dari keluarga pedagang, Syamsudin Hamade bertekad untuk jadi pengusaha. Dia merawat keinginan itu hingga dewasa. Meski akhirnya jalur pendidikan yang ditempuh berbeda. Sekarang dia mengecap manisnya berwirausaha.

 

SETELAH lulus dari Program Studi Teknik Listrik Bandar Udara, Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug pada 2002, Syamsudin Hamade mendapat penugasan ke Samarinda. Pria asal Soe, Nusa Tenggara Timur itu kemudian ditugaskan lagi ke Bandara Melalan, Melak, Kutai Barat.

Dia mengakui jika malas mencuci pakaian, sehingga sering laundry. “Tapi di sana kurang representatif mulai kualitas dan waktu pengerjaan. Karena saya masih punya tekad ingin jadi pengusaha, itu saya lihat sebagai peluang,” ungkap pria yang karib disapa Syam itu.

Sebelum berani membuka usaha laundry, dia pernah berjualan apa saja. “Mainan anak-anak sampai spare part motor. Tapi enggak ada yang sukses, mungkin faktor karena masih bujang dan kurang bisa manajemen,” jelasnya kemudian terkekeh.

Pada 2009 dia menikah di Samarinda kemudian memboyong sang istri ke Melak. Lalu pada 2011, dia mulai merancang usahanya. Termasuk mengikuti pelatihan laundry hingga ke Sidoarjo, Jawa Timur bersama istri. Secara teknik hingga manajemen dipelajari perlahan.

“Dan 2012 akhirnya mulai operasi. Alhamdulillah mulai tumbuh, dari satu karyawan sampai punya lima,” ujarnya. Nama Istana Laundry dipilih. Penggunaan kata istana dimaknai Syam sebagai bentuk untuk membangun kebermanfaatan atas usahanya. Itu pula yang jadi salah satu pegangan dalam menjalankan usaha.

“Tapi enggak bertahan lama, ada satu karyawan yang kurang amanah dan tentu saja rugi. Memilih tutup di sana, dan mulai lagi di Samarinda pada 2014, semua alat yang bisa dibawa kami bawa,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) Kaltim tersebut.

Outlet pertama di Bengkuring, dekat rumah. Syam yang terus belajar akhirnya berhasil membuka outlet kedua pada 2015, khusus cuci karpet. Kini total ada 7 outlet. Dalam semester pertama 2020 ini, dia berencana membuka 10 outlet kecil dan go nasional. Namun ditunda karena pandemi menghantam seluruh bisnis, termasuk milik Syam.

“Sudah ada obrolan dan ada yang mau investasi untuk buka di Jakarta. Terasa sekali pandemi ini, kami juga ambil kebijakan merumahkan sebagian karyawan. Sekarang fokus tidak mencari untung, bertahan dulu,” imbuhnya ditemui di Workshop Laundry, Jalan Wijaya Kusuma.

Jika sebelumnya setiap hari melayani 1 ton cucian, selama pandemi merosot hingga 300 kilogram (kg). “Sempat kaget saat kok 300 kg saja, sebab beberapa hotel yang kerjasama juga menurun kan ya. Dan tutup sementara dua outlet. Alhamdulillah ini mulai naik lagi pelan-pelan ke 500 kg, karyawan yang dirumahkan mulai diberdayakan ke unit bisnis lain,” jelas Syam.

Kembali melihat peluang, sejak awal tahun Syam menjual bisnis telur organik. Apalagi saat ini orang mulai sadar pola hidup sehat. Dia yakin bisnisnya itu memiliki masa depan cerah

“Sudah memasok ke beberapa supermarket lokal di Samarinda. Tercatat pula ada 25 reseller. Coba masuk ke Indomaret, mereka pikir ini produk nasional karena belum ada di Indonesia. Makanya target kami juga nasional,” kata dia.

Dia optimistis, sebab menjamin kebermanfaatan dari telur organik yang dijual. Dari segi kesehatan jelas memiliki kandungan gizi lebih. Syam menyebut jika usaha itu sudah melalui riset 3 tahun. Telur dengan kandungan probiotik atau bakteri baik untuk tubuh.

Sehari menjual hingga 5 ribu butir. Targetnya 100 ribu per hari untuk Samarinda, dan 1 juta per hari untuk Kaltim. “Ingin dicapai dalam tahun ini. Optimis untuk bisa ke pasar nasional. Karena kami berani menjual telur lebih sehat dengan harga hampir sama dengan telur biasa,” jelasnya.

Ditanya harapan lain mengenai usaha, Syam fokus untuk dua unit usahanya sekarang. Mengembangkan yang ada. Ada visi besar di seluruh unit usahanya yang bernaung di bawah Istana Group. Kembali ke visi awal saat menyematkan nama Istana pada bisnis laundry-nya.

“Saya aktif di komunitas, dan di situ tempat saya tumbuh juga. Fokusnya adalah spiritual, leadership (kepemimpinan) dan entrepeneurship (kewirausahaan). Salah satu tagline-nya yakni belanja di saudara. Menghidupkan usaha, saling referensikan,” pungkas ayah dua anak tersebut. (rdm)

 

GRAFIS

Nama lengkap         : Syamsudin Hamade

TTL              : Soe, 12 Oktober 1981

Nama Istri    : Krisnawati

Anak:

1. M Syaifullah Rasyad

2. Jihan Makaela Fakhira

 

Pendidikan: Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, Curug (1999-2002)

 

Unit Usaha:

Istana Laundry 2012-sekarang (miliki 7 outlet: - Workshop Wijaya Kusuma, Bengkuring, Gatot Subroto, Hidayatullah, Pramuka, Sutomo, Lambung Mangkurat)

Telur O (telur organik) Januari-sekarang

Editor : izak-Indra Zakaria
#Sosok #sosok inspirasi