Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Makin Nyaman Belanja Online

izak-Indra Zakaria • 2020-09-24 10:26:45
ilustrasi
ilustrasi

BALIKPAPAN- Pergeseran pola perilaku konsumen ke ranah online sebagai dampak dari pandemi corona dinilai bisa jadi kunci upaya pemulihan ekonomi daerah dan nasional. Data Bank Indonesia mencatat peningkatan volume transaksi belanja di e-commerce yang dilakukan masyarakat pada kuartal II 2020 sebanyak 383,5 juta kali. Jumlah itu naik 39,05 persen dibandingkan kuartal I, sebesar 275,8 juta kali.

General Manager Kredivo Indonesia Lily Suriani mengatakan, kondisi ini membuktikan peran ekosistem digital yang semakin solid di tengah pandemi, terlebih dalam menjaga daya beli masyarakat. Menurutnya, kolaborasi financial technology (fintech) dan e-commerce yang semakin solid juga terbukti mampu meningkatkan nilai rata-rata pembelian dan frekuensi transaksi.

Kredivo, sebagai platform kredit digital yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan telah bermitra dengan lebih dari 1.000 merchant di Tanah Air mencatat penggunaan Kredivo berhasil meningkatkan rata-rata pembelian merchant hingga 50 persen. Selain itu, frekuensi transaksi pada merchant yang menggunakan Kredivo menjadi empat kali lebih sering dalam setahun dibandingkan user yang menggunakan metode pembayaran lain.

“Kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi dalam berbelanja online mendorong inovasi pembayaran digital. Kemudahan akses serta opsi pembayaran secara berkala yang ditawarkan fintech diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat, sehingga menjadi stimulus pemulihan ekonomi nasional, terlebih di tengah pemberlakuan PSBB di ibu kota,” tuturnya.

Oleh karena itu, kolaborasi inovasi e-commerce dan fintech harus terus ditingkatkan guna membangun ekosistem digital yang semakin solid. Lebih lanjut, dengan adanya pergeseran kebiasaan masyarakat dari belanja offline menjadi online, menjadi krusial bagi para pelaku industri untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan pola perilaku konsumen. Hal ini dapat membantu mereka dalam meningkatkan nilai transaksi sekaligus membantu laju pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di tengah pandemi.

Salah satu contohnya, seperti yang ditemukan oleh riset Kredivo dan Katadata Insight Center, bahwa pengaruh gender dalam hal loyalitas maupun rata-rata transaksi. Sebanyak 33 persen konsumen perempuan cenderung bertahan di satu marketplace dibandingkan konsumen pria yang hanya sebesar 15 persen.

Namun, di sisi lain, perempuan lebih sering berbelanja. Tetapi pria mengeluarkan uang lebih banyak. Rata-rata transaksi perempuan dalam satu tahun mencapai 26 kali, lebih tinggi dari pria, yaitu sebanyak 14 kali. Namun dalam hal nilai transaksi, pria mengeluarkan uang 83 persen lebih banyak dalam satu kali transaksi dibandingkan perempuan.

Selain itu, meskipun e-commerce masih didominasi oleh pengguna milenial, pemain bisnis perlu memerhatikan kelompok umur di mana terdapat perbedaan selera antara konsumen tua dan muda. Riset yang sama mencatat bahwa semakin tua, konsumen semakin sering membeli kebutuhan rumah tangga.

Proporsi konsumen di atas 25 tahun dan pendapatan di atas Rp 5 juta yang membeli produk peralatan rumah tangga lebih tinggi dibanding kelompok umur dan pendapatan lainnya. Terlebih di masa pandemi ini, Kredivo juga mencatat peningkatan frekuensi pembelian di e-commerce pada Semester I 2020 di kategori home appliances, di samping barang-barang pokok dan barang hobi lainnya.

Menurutnya, kolaborasi antara e-commerce dan fintech lantas semakin penting di masa pandemi di mana tren kepercayaan dan kenyamanan konsumen dalam bertransaksi online semakin meningkat. Penggunaan inovasi pembayaran digital oleh merchant, yang memberikan kemudahan akses dan opsi pembayaran berkala diharapkan mampu untuk turut menjaga daya beli masyarakat.

“Di tengah upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, fokus kami adalah memberikan kemudahan akses dan fleksibilitas pembayaran guna terus menjaga pertumbuhan transaksi para merchant. Dengan checkout & pinjaman e-commerce (POS financing) yang instan, kami terbukti membantu merchant menaikkan rata-rata pembelian atau average order value (AOV) serta frekuensi transaksi,” terangnya.

Bank sentral juga mencatat transaksi nontunai di Kaltim pada triwulan II meningkat dari segi nominal. Tetapi menurun secara volume. Dari segi nominal, transaksi nontunai di Bumi Etam sebanyak Rp 53,87 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat Rp 49,43 triliun. Sementara itu, secara volume transaksi nontunai terpantau hanya 256,32 ribu transaksi, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya dengan volume transaksi 278,36 ribu.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, penurunan volume transaksi ini sejalan dengan perlambatan ekonomi yang terkontraksi sebesar 5,46 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2020. Berdasarkan nominalnya, transaksi nontunai didominasi oleh Real-Time Gross Settlement (RTGS). Sementara berdasarkan volumenya didominasi oleh Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).

“Transaksi nontunai melalui RTGS pada triwulan II 2020 terpantau sebesar Rp 44,63 triliun atau sebesar 82,86 persen dari seluruh transaksi nontunai di Kaltim,” katanya.

Sementara berdasarkan volumenya, transaksi nontunai yang menggunakan SKNBI mendominasi dengan mencatat transaksi sebanyak 242,05 ribu transaksi, atau sebesar 94,43 persen dari total volume transaksi nontunai di Kaltim.

“Sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi Kaltim sehubungan dengan pandemi, transaksi nontunai yang menggunakan SKNBI menurun pada triwulan II 2020, baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya,” tuturnya.

Dia menjelaskan, jumlah transaksi nontunai di Kaltim yang menggunakan SKNBI secara volume tercatat sebanyak 242,05 ribu transaksi, lebih rendah dibandingkan jumlah transaksi pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 256,98 ribu transaksi. Secara pertumbuhan, volume transaksi nontunai SKNBI tersebut terkontraksi sebesar 4,06 persen (yoy).

Begitu juga dari sisi nominal, nilai transaksi SKNBI pada triwulan ini juga menurun dari Rp 10,43 triliun pada triwulan I 2020 menjadi Rp 9,23 triliun. Sementara dari sisi pertumbuhannya, nilai nominal transaksi SKNBI tercatat tumbuh sebesar 8,64 persen (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 16,22 persen (yoy).

“Sedangkan transaksi RTGS di Kaltim pada triwulan II 2020 mengalami peningkatan, baik dari segi nominal maupun volume,” tuturnya.

Pada triwulan kedua, transaksi RTGS di Bumi Etam tercatat sebesar Rp 44,63 triliun, meningkat dibandingkan dengan triwulan I 2020 yang tercatat sebesar Rp 39 triliun. Begitu pula dengan volume transaksi RTGS Kaltim juga mengalami peningkatan dengan jumlah transaksi sebanyak 14,27 ribu transaksi, dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12,37 ribu transaksi.

“Transaksi nontunai RTGS tersebut mengalami peningkatan sebesar 405,27 persen (yoy) secara nominal dan 240,67 persen (yoy) secara volume,” tutupnya. (ctr/aji/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bisnis Kaltim