JAKARTA– Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung penuh perkembangan industri peralatan listrik tanah air. Harapannya, produk lokal mampu bersaing dengan impor untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan global. Dengan demikian, ekspor peralatan listrik mampu mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.
”Kami melihat industri peralatan listrik di dalam negeri kompetitif dengan produk impor. Potensi ini perlu dioptimalkan dengan memfasilitasi perluasan pasar ekspor,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier kemarin (16/3).
Dia menilai, industri peralatan listrik cukup prospektif ke depan. Itu selaras dengan upaya untuk mengakselerasi penerapan Industri 4.0. ”Kecanggihan teknologi mampu membuat konsumsi daya peralatan listrik rendah,” ujarnya.
Kemenperin mengapresiasi PT Jinheung Electric Indonesia yang rutin mengekspor suku cadang alat rumah tangga bertenaga listrik ke Korea Selatan (Korsel). Misalnya, miniature circuit breaker (MCB), power socket, dan switch. ”Di tengah masa pandemi seperti ini, kami bangga kepada para pelaku industri yang masih agresif menembus pasar ekspor,” tegas Taufiek.
Data Kemenperin menunjukkan, meski diterpa pandemi, industri pengolahan mampu mencatatkan kenaikan nilai ekspor sebesar 2,95 persen tahun lalu. ”Kinerja itu membuat neraca dagang sektor manufaktur sepanjang 2020 menjadi surplus USD 14,17 miliar,” ungkapnya.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenperin Janu Suryanto menyatakan, PT Jinheung Electric Indonesia telah mengisi laporan pembangunan dan produksi 2020 pada Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Selain itu, mereka melaporkan izin operasional dan mobilitas kegiatan industri (IOMKI) secara berkala.
”Perusahaan yang belum mengisi SIINas diharapkan segera menindaklanjuti laporan berbasis sistem elektronik tersebut,” ujar Janu. Selama pandemi, Kemenperin meminta para pelaku industri menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Jinheung Electric Indonesia Lee Ki Sou mengatakan, perusahaan memang terus berusaha meningkatkan ekspor. Itu sesuai anjuran pemerintah supaya bisa berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. ”Kami telah mengekspor ke Korea (Selatan, Red) dengan nilai USD 5,68 juta pada 2020,” ungkapnya.
Pada periode Januari–Februari 2021, perusahaan tersebut mengapalkan produk berupa MCB, power socket, dan switch sebanyak 1,5 juta unit. Nilainya mencapai USD 1,2 juta atau setara dengan Rp 17,3 miliar. ”Untuk Maret ini, kami kembali ekspor ke Korsel sebanyak tiga kontainer dengan jumlah produk 230 ribuan unit,” urai Lee.
Menurut dia, perusahaan sedang mengakselerasi peningkatan jumlah produksi di dalam negeri untuk mendorong daya saing nasional. Selain itu, Lee mengatakan, perusahaan tetap berkomitmen untuk menambah investasi. Tujuannya, supaya Indonesia tetap menjadi basis produksi pasar dalam dan luar negeri. (agf/c13/hep)
grafis ---
Neraca Dagang RI-Korsel 2020
Keterangan Nilai (Miliar USD)
2019 2020
Ekspor 7,2 6,5
Impor 8,4 6,8
Total perdagangan -1,2 -0,3
Grafis: Kemendag
Editor : izak-Indra Zakaria