Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

KADA USAH DICARI..!! Di Kalsel, Premium Tak Dijual Lagi

izak-Indra Zakaria • 2021-04-23 16:20:10
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

BANJARMASIN - Nozzle premium terlihat masih menggantung di mesin SPBU di kawasan Jalan Lingkar Dalam Selatan. Antrean panjang kendaraan yang biasanya terjadi, juga tak tampak lagi.

Sejak 17 April lalu, distribusi premium ke SPBU ini sudah disetop oleh pertamina. Tak ada premium, masyarakat hanya bisa mengisi BBM jenis pertalite dan pertamax. “Sudah hampir seminggu tak dijual lagi premium,” tutur Ali petugas SPBU.

Meski tak ada lagi premium, dia mengatakan, ketersediaan pertalite sangat melimpah. “Gantinya pertalite, harganya pun sama dengan premium,” ujarnya.

Tak hanya di kawasan ini, SPBU di kawasan Jalan Sultan Adam, premium juga sudah tak dijual. Gantinya juga dengan pertalite yang harganya sama dengan premium. Untuk diketahui, harga premium di SPBU adalah Rp6.450 per liter. Sedangkan pertalite Rp7.800 per liter.

Meski pertalite dijual dengan harga yang sama dengan premium. Namun tak semua kendaraan yang bisa mendapatkan harga subsidi ini. Mereka yang mendapat harga sama dengan premium ini adalah kendaraan roda 2, roda 3, dan angkutan berplat kuning. Di luar itu, kendaraan roda empat pribadi, tetap dengan harga Rp7.800 per liter.

Program pertalite khusus ini baru diterapkan di Kalsel. Khusus di Kota Banjarmasin ada terdapat 16 SPBU yang berpartisipasi. Susanto August Satria, Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR VI Pertamina mengatakan Kalsel paling terakhir menerapkan program yang bernama Program Langit Biru (PLB) itu. “Kalsel baru berjalan sejak 18 April lalu,” ujarnya kemarin.

Program harga pertalite sama dengan premium ini terangnya, akan dilaksanakan hingga enam bulan kedepan. “Selain tengah membangun fasilitas guna mampu menjawab kebutuhan BBM dalam negeri dan berstandar kualitas dunia, melalui program ini Pertamina berkomitmen untuk mendukung upaya penekanan polusi udara dengan memberikan pengalaman kepada masyarakat menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi yang lebih ramah lingkungan,” paparnya.

Upaya ini sebutnya, sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran udara yang perlu menjadi perhatian seluruh pihak. “Salah satu upayanya adalah dengan pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor dengan menggunakan BBM yang berkualitas dan ramah lingkungan,” tambahnya.

Program ini sebutnya juga sebagai edukasi untuk memberikan pengalaman dan manfaat menggunakan BBM dengan oktan dan lebih tinggi, yaitu beroktan 90 yaitu Pertalite. “Selain ramah lingkungan, juga penggunaannya irit dan yang paling penting masyarakat bisa menikmati BBM berkualitas tinggi,” sebut Satria.

Menurutnya, masyarakat Indonesia dalam penggunaan BBM dengan oktan tinggi masih sangat rendah. “Indonesia menjadi salah satu dari 7 negara (Mesir, Ukraina, Srilanka, Kolombo, Bangaladesh, dan Mongolia) yang masih memiliki BBM beroktan 88 bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun sudah tidak lagi menjual BBM beroktan rendah tersebut,” paparnya.

Lalu apakah premium akan tak lagi dijual kepada masyarakat? Arya mengaku belum tahu soal kebijakan ini, karena urusan ini ada di pemerintah. “Harganya kan sudah sama dengan premium. Masyarakat pasti memilih harga yang murah namun dengan kualitas terbaik. Soal tak akan didistribusikan lagi premium, itu kebijakan pemerintah,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Editor : izak-Indra Zakaria
#bbm