BALIKPAPAN- PT Mitra Murni Perkasa (MMP) tengah membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) nikel di Kawasan Industri Kariangau. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2023 mendatang.
“Kami akan membangun smelter di daerah Kariangau yang direncanakan konstruksinya dimulai awal tahun depan. Saat ini, kami masih merampungkan perizinan,” ujar pemegang saham PT MMP Andrew Hidayat, Kamis (2/9).
Ia menjelaskan, keinginannya membangun smelter di Balikpapan karena Kota Minyak punya potensi sumber daya manusia (SDM) yang menunjang dan lokasi di Kariangau memiliki kedalaman laut yang menunjang. “Planning-nya sudah kami susun dua tahun silam. Saat ini, sudah proses pemerataan lahan dan kami targetkan tahun depan sudah mulai konstruksi,” tuturnya.
Ia menjelaskan, smelter nikel ini akan menunjang proyek pabrik baterai pemerintah. “Kalau proyek tersebut belum kelar saat kami beroperasi ya akan kami ekspor,” katanya.
Saat ini, pabrik baterai yang ada masih di Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Jadi, jika belum rampung pihaknya akan ekspor tiga negara tersebut. “Target kami di 2023 sudah commissioning,” bebernya.
Adapun luasan lahan yang mulai dikelola sekitar 23 hektare untuk tahap pertama dari total 58 hektare yang disiapkan dan akan terus menerus diperluas. Untuk nilai investasi, pihaknya siap menggelontorkan dana Rp 6,5 triliun.
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud memberikan dukungan terkait rencana pembangunan smelter nikel di Kariangau. Dirinya mempersilahkan asalkan sudah sesuai regulasi dan melengkapi segala perizinan. “Silakan bangun apa yang mau dibangun di kota Balikpapan sepanjang prosedurnya dan perizinan dilengkapi,” ucap Rahmad.
Di Kariangau juga ada kawasan industri, tentu sangat baik jika semakin banyak yang masuk dan mengembangkan usahanya di sana, sehingga Balikpapan bisa menjadi kota jasa perdagangan dan industri. (aji/ndu/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria