Rencana Pemko Banjarmasin membuka Siring Pierre Tendean kembali tertunda. Dalihnya persiapan yang belum rampung. Sementara pengunjung tak bisa dibendung.
***
BANJARMASIN - Sejak pagi hingga kemarin petang (14/11) , pengunjung datang silih berganti memadati kawasan wisata di tepi Sungai Martapura itu. Demikian pula dengan pedagang kaki lima (PKL) yang tampak leluasa berjualan.
Pantauan Radar Banjarmasin, tak tampak adanya penjagaan petugas. Mengingatkan pedagang maupun pengunjung, bahwa objek wisata itu masih ditutup.
Yang ada hanya patroli dinas perhubungan dan kepolisian. Mungkin untuk mencegah tawuran remaja yang kerap pecah di sana.
Padahal, banyak pengunjung yang mengabaikan protokol kesehatan (prokes). Contoh sederhana, masih ada yang tidak mengenakan masker.
Sejatinya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin menggelar simulasi pembukaan siring pada pekan pertama dan kedua bulan ini. Tapi simulasi yang direncanakan tak kunjung terlihat.
Kepala Disbudpar Banjarmasin, M Ikhsan Alhak menjelaskan, simulasi ditunda lantaran pihaknya belum siap. Seperti menyiapkan penerapan aplikasi Peduli Lindungi.
"Pekan ini ditunda ke pekan depan. UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Siring masih berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan," ujarnya, kemarin.
Perihal kondisi siring yang tampak dipadati pengunjung dan PKL, Ikhsan berdalih, mereka datang untuk sekadar mampir.
"Mereka cuma mampir sebentar. Tidak berlama-lama di situ," jawabnya.
Selebihnya, Ikhsan enggan berkomentar. Ia meminta media menanyakan masalah ini pada Kepala UPTD Siring, Naziza. "Karena dia yang mengurusnya," tutupnya.
Sejak pekan lalu, Radar Banjarmasin sudah mencoba mengkonfirmasi rencana simulasi ini kepada Naziza. Tapi yang bersangkutan tak kunjung merespons.
Diwartakan sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina memberikan lampu hijau untuk pembukaan objek wisata Pasar Terapung di Siring Pierre Tendean.
Mengingat status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah turun ke level 2.
"Dalam inmendagri, ada pelonggaran, pembukaan 50 persen untuk sektor publik dan sektor pariwisata. Itulah yang menjadi pegangan kami," ungkapnya.
Kendati dilonggarkan, Ibnu menginginkan adanya simulasi untuk bahan evaluasi sebelum benar-benar dibuka.
Bagi Pengunjung Bikin Ribet
Rencana penerapan aplikasi Peduli Lindungi di Pasar Terapung menuai kritik masyarakat. Dianggap terlalu membebani.
Apalagi, di dermaga siring juga akan dipasangi portal. Ada pengecekan suhu tubuh. Ditambah lagi, lansia dan balita dilarang masuk.
Semuanya demi mengurangi risiko penularan COVID-19 di tengah pengunjung siring.
"Saya pikir, aturan-aturan itu malah akan membuat siring menjadi sepi," kata Surya, 60 tahun, kemarin (14/11).
Warga Kelurahan Pekapuran Raya itu rutin berolahraga di Siring Pierre Tendean pada Minggu pagi.
"Setelah olahraga, kami santai di depan dermaga Pasar Terapung. Karena di sini suasananya teduh dan nyaman. Lokasi lain seperti di siring seberang, tak senyaman di sini," tuturnya.
Dia berharap pemko bisa meninjau ulang rencana tersebut. "Menurut saya, tinggal kita saja yang disiplin menjaga prokes seperti mengenakan masker. Tidak perlu dipagar atau dibatasi," harapnya.
Sebab, mengingat usianya, Surya tergolong lansia. "Orang tua seperti saya juga perlu hiburan," tambahnya.
Senada dengan Inas. Ayah dua anak ini merasa penggunaan aplikasi Peduli Lindungi masih belum pas untuk Banjarmasin. Karena masih banyak warga yang belum kebagian jatah vaksin.
Kemudian, Inas juga menolak larangan membawa anak di bawah usia lima tahun ke siring.
"Membawa anak-anak ke sini juga salah satu upaya mengenalkan budaya Banjar. Anak-anak juga senang dibawa jalan-jalan ke sini," ujar warga Kelurahan Kebun Bunga itu.
"Kalau tidak boleh membawa anak, artinya peraturan itu bikin ribet. Sayang kalau siring ini sepi gara-gara terlalu banyak aturan," keluhnya.
Rencana pemasangan portal itu pernah diungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, M Ikhsan Alhak. Tujuannya untuk mengendalikan pengunjung.
Mengacu Inmendagri Nomor 54 Tahun 2021, di daerah dengan status PPKM level 2, maka objek wisata boleh dibuka 50 persen.
Taruhlah kawasan siring mampu menampung 100 orang, maka hanya 50 orang saja yang dibolehkan masuk secara bergantian. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin