JAKARTA - Potensi industri pariwisata pada 2024 masih begitu besar. Perlu dorongan infrastruktur yang memadai untuk tingkatkan nilai destinasi dan selektif terhadap wisatawan. Dengan begitu, dapat menciptakan dampak signifikan terhadap ekonomi nasional.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Addin Maulana memperkirakan, prospek pariwisata 2024 akan lebih baik dari tahun ini. Setidaknya terdapat 700 juta perjalanan wisata di Indonesia. Oleh karena itu, perlu persiapan yang mumpuni untuk mengantisipasi lonjakan kunjungan tersebut.
Menurut dia, pariwisata terkait dengan pergerakan manusia. Terkadang mobilitasnya itu terlalu besar. Sehingga, tidak jarang terdapat tempat wisata atau daerah yang tidak siap dengan fenomena itu alias over tourism.
Oleh karena itu, perlu pembangunan fasilitas, infrastruktur, dan pengelolaan yang mumpuni untuk menunjang kualitas destinasi wisata. “Kesiapan infrastruktur, aksesibilitas, dan keselamatan. Sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dan mengendalikan melalui visitor management dengan baik,” kata Addin saat ditanyai Jawa Pos, (26/12).
Dia menilai, pemerintah perlu fokus meningkatkan pariwisata berkualitas alias quality tourism. Perlu memilih segmentasi pasar wisatawan yang potensial memberikan dampak ekonomi yang tinggi. Tanpa harus mengkhawatirkan jumlah.
“Menyeleksi market wisatawan yang potensial memberikan dampak ekonomi signifikan. Jadi, kalau tidak bisa mengejar jumlah wisatawan, paling tidak dampak ekonominya. Mereka yang spending more dan stay longer harus jadi target pasar utama,” jelasnya.
Sementara itu, Co-Founder & Chief Marketing Officer tiket.com Gaery Undarsa menilai, potensi industri pariwisata bagi Indonesia pada 2024 masih begitu besar. Apalagi, adanya pesta demokrasi diprediksi dapat mendorong pertumbuhan pariwisata domestik dari sektor perjalanan dan akomodasi. “Ditambah animo wisata yang terus tumbuh terutama dari internasional,” ungkapnya.
Adanya perubahan perilaku masyarakat terkait kebutuhan wisata juga terus berkembang. Seperti, Gen Z yang dipicu oleh perasaan fear of missing out (FOMO). Pergi wisata ke destinasi yang instagramable serta, tidak ingin ketinggalan tren. Berbeda dengan segmen millenial yang lebih menyukai wisata bersama keluarga. (han/dio)
Editor : izak-Indra Zakaria