Ketergantungan Kaltim pada industri pertambangan batu bara harus terus dipangkas. Sebab, suatu saat sumber energi tersebut bakal habis. Apalagi, saat ini tren global mulai bergeser ke energi bersih. Nah, sektor yang bisa diandalkan untuk menjadi penopang adalah pariwisata dan ekraf.
SAMARINDA - Komite Ekonomi Kreatif Kaltim bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kaltim mengumpulkan data perhitungan nilai kontribusi ekonomi kreatif (ekraf) pada struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim periode 2021-2023. Ini dilakukan untuk mencari tahu dan menghitung seberapa besar perputaran ekonomi dari kegiatan ekraf di Bumi Etam.
“Untuk menghasilkan data itu, kami gunakan pendekatan saintifik. Ini merupakan hal yang penting, mengingat Kaltim sedang menyusun transformasi pembangunan, sosial, ekonomi, dan tata kelola,” kata Wakil Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kaltim, Erwiantono Surip saat ditemui pada Dialog Masyarakat Ekraf (Makraf), Kamis (11/1). Acara tersebut diinisiasi DPD Asosiasi Duta Wisata Indonesia (Adwindo) Kaltim bekerja sama dengan Unmul dan Seraung Group.
Menurut Erwin, hal ini sangat diperlukan. Sebab, ke depan ketergantungan Kaltim pada industri ekstraktif sekitar 40 persen. “Secara umum (tren global) jumlahnya tetap besar (industri ekstraktif). Tetapi secara komparatif, trennya menurun karena tambang pasti akan habis, di balik itu ada kebutuhan kita untuk menghasilkan energi bersih,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, ia memastikan Kaltim perlu menyiapkan mesin-mesin ekonomi baru serta mengefektifkan yang sudah ada. “Ini jadi backup plan ketika nanti ekonomi kita bergeser. Nah, salah satu sektor yang kita harapkan menjadi penopang itu adalah pariwisata dan ekraf,” lanjutnya.
Data itu, menyajikan besarnya nilai tambah yang dihasilkan dari 225 aktivitas ekonomi pada 17 subsektor Ekraf di Kaltim pada 2023, serta perkembangannya selama periode 2021-2023. Berdasarkan hasil tersebut nilai PDRB ekraf Kaltim pada 2023 mencapai Rp 29,43 triliun. Naik 2,11 persen dibandingkan 2022. Kemudian, kontribusi PDRB ekraf terhadap perekonomian Kaltim 2023 mencapai 5,61 persen.
Dari 17 subsektor ekraf tersebut ada lima sektor usaha yang dominan kontribusinya dalam pembentukan PDRB ekraf Kaltim, yaitu kuliner sebesar 3,46 persen, fesyen sebanyak 0,79 persen, kriya atau kerajinan tangan sebanyak 0,56 persen, penerbitan 0,34 persen, dan aplikasi 0,15 persen.
Berdasarkan hal itu, Erwin menginginkan sektor-sektor ekonomi tersebut ini diperkuat daya saingnya. “Ketika kita ingin perkuat maka pilar pendukungnya harus diperkuat juga seperti ekosistem usahanya, pelaku usahanya, riset-risetnya,” kata Erwin,
Terlebih, sepuluh tahun ke depan Indonesia akan mengalami bonus demografi. Jika tidak mempersiapkan ekosistem usahanya, sumber daya manusianya, maka yang dipanen bukan bonus demografi malah beban demografi.
“Nah, kami ingin menunjukkan angka-angka ini, supaya mereka yakin dengan apa yang mereka lakukan. Meskipun kelihatannya bersenang-senang, tapi ini merupakan masa depan kita. Saya ingin memberitahukan kepada mereka, bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah jalan yang benar,” tambah Erwin.
Kepala pusat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Unmul tersebut juga menjelaskan bahwa angka statis ekraf Kaltim sudah di 5,7 persen, sedangkan angka nasional mencapai 7,9 persen. “Kita mau kejar gap itu, minimal setara dengan angka nasional,” tegasnya. Maka dari itu, dibutuhkan akselerasi untuk merangsang percepatan ekosistem ekonomi dengan beberapa treatment persiapan. Salah satunya sertifikasi.
Selain itu, dari sektor pariwisata saat ini angka nasional pariwisata 4,5 persen sedangkan Kaltim masih di angka 1,9 persen, Erwin menilai masih ada ketertinggalan jauh. Adapun hasil tinjauan timnya dalam hal ini melalui indeks kepuasan wisatawan yang berada di skor 73,97/100. Minat berkunjung kembali di skor 48,67/100 persen.
Sementara, minat wisatawan merekomendasikan destinasi sebesar 54,56/100. Terakhir, reviu wisatawan secara sukarela di skor 46,23/100. Nilai tersebut telah baik tapi belum mengesankan. Jadi, perlu ada perbaikan dan peningkatan mutu melalui perbaikan pemanduan, protokol kebersihan, layanan kebersihan lingkungan, sistem promosi, meningkatkan kualitas produk ekraf yang bekerja sama dengan destinasi wisata.
Dari pemaparan yang ada, Erwin dan timnya merekomendasikan beberapa upaya. Mulai penguatan ekosistem, pihaknya akan mendorong sektor tersebut menjadi model bisnis yang kompetitif. Program kolaborasi yang pendanaan dari pemerintah, swasta, serta asosiasi. Usaha-usaha itu akan diefektifkan, dapat akses pembiayaan yang baik, agar kompetisi bisnisnya juga tinggi sehingga bertahan.
“Mengingat ekraf itu kelemahannya adalah keberlangsungan usahanya masih rendah. Sama seperti start-up banyak yang mati dalam prosesnya. Kami ingin semuanya tetap konsisten,” ucapnya. Nah, kegiatan ini merupakan voluntary dalam menyumbang keahlian. Pihaknya berusaha untuk berhimpun dan kolaborasi dibangun dari bawah.
“Kaltim itu sudah punya komite ekraf wadah di mana pentahelix itu bergabung, yang terdiri dari pengusaha, komunitas, akademisi, pemerintah dan media,” ungkap Erwin. Ia berharap, melalui hal itu anak-anak muda Kaltim bisa berkarya, punya masa depan yang baik, serta bangga di tanahnya sendiri.
“Kita harus menyiapkan, kita harus bersaing secara sehat, berkompetisi, berkolaborasi sekaligus mewujudkan mimpi kita terhadap visi Kaltim untuk maju adil dan berkelanjutan bisa tercapai,” pungkasnya. (ndu/k15)
NASYA RAHAYA
@nasyarahaya
Editor : izak-Indra Zakaria