Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pasar Batu Bara Kaltim Hadapi Banyak Tantangan

Indra Zakaria • Kamis, 25 Januari 2024 - 21:24 WIB

 

Sampai saat ini batu bara masih jadi andalan ekspor Kaltim.
Sampai saat ini batu bara masih jadi andalan ekspor Kaltim.

 

Kontribusi batu bara pada perekonomian Kaltim tahun ini tampaknya menurun. Sebab komoditas andalan Bumi Etam ini dihadapkan berbagai tantangan. Utamanya fluktuasi harga yang signifikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana mengatakan, Kaltim menjadi salah satu provinsi yang berkontribusi besar terhadap kinerja ekspor Indonesia. Terutama berkat kontribusi besar dari sektor ekspor batu bara.

Hampir 60 persen pertumbuhan ekonomi Kaltim masih bergantung pada sektor pertambangan dan industri pengolahan. Serta lebih dari 80 persen dari total nilai ekspor Kaltim didominasi oleh migas dan batu bara.

Dinamika pasar ekspor batu bara di Kaltim juga menjadi cermin dari perubahan global yang terus berkembang. Ini memunculkan tantangan sekaligus peluang bagi perekonomian provinsi ini.

“Pasar ekspor batu bara Kaltim menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya fluktuasi harga yang signifikan di tingkat global,” ungkapnya, Rabu (24/1).

Dia menjelaskan, sebagai sumber daya alam utama provinsi ini, batu bara memiliki peran sentral dalam pendapatan ekspor dan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Namun, perubahan dalam tata kelola energi global, regulasi internasional terkait emisi karbon, dan dinamika geopolitik mempengaruhi secara langsung dinamika pasar tersebut.

Di sisi lain, ada peluang besar untuk memanfaatkan potensi diversifikasi ekonomi, peningkatan nilai tambah, dan upaya berkelanjutan dalam menghadapi era transisi energi global.

Dalam konteks ini, pembahasan mendalam terkait dinamika pasar ekspor batu bara Kaltim akan memberikan wawasan yang lebih jelas tentang bagaimana provinsi ini merespons dan beradaptasi terhadap perubahan global.

“Dengan memahami tantangan dan peluang yang ada, Kaltim dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi risiko, dan menggali potensi baru dalam mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Yusniar, pada 2018 tercatat bahwa permintaan batu bara global melandai. Beberapa pemerintah mengumumkan rencana untuk menghentikan penggunaan batu bara, investasi global dalam pembangkit listrik batu bara menyusut, dan investasi di tambang batubara baru pun stagnan.

Pembekuan sumber daya keuangan untuk proyek batu bara mungkin telah menandai awal penurunan struktural permintaan dan pasokan batu bara. Namun, permintaan batu bara global kembali mencapai rekor tertinggi pada tahun 2022.

“Pertanyaan kunci adalah kapan penurunan struktural permintaan batu bara akan dimulai dan seberapa tajam penurunannya,” ujarnya.

Permintaan batu bara global mencapai rekor tertinggi pada 2022, didorong oleh perimintaan Tiongkok dan India. Meskipun demikian, ini bukanlah kebangkitan batu bara yang berkelanjutan. Tahun 2023, permintaan batubara di Eropa sedang runtuh.

Permintaan batu bara AS terus mengalami penurunan struktural. Bahkan di Tiongkok, di mana izin pembangunan pembangkit listrik batubara mengalami peningkatan, permintaan batu bara dapat mengalami penurunan segera pada 2024.

Permintaan India kemungkinan akan terus tumbuh. Sebagai produsen batu bara, ekspor batu bara Indonesia dari tahun 2018 hingga 2022 mencerminkan variasi yang signifikan dalam tren ekspor. BPS mencatat, ekspor batu bara Indonesia secara keseluruhan menunjukkan fluktuasi yang mencolok, mulai dari tingkat tinggi pada 2018, penurunan tajam pada 2019, yaitu dari 356,39 ribu ton menjadi 286,94 ribu ton, kemudian angka ini kembali naik pada 2020 menjadi 331,94 ribu ton. Tahun 2021 angka ini kembali turun hingga 322,07 ribu ton sebelum meningkat tajam pada 2022 hingga 367,94 ribu ron. 

“Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, penurunan pada 2019 terkait dengan penurunan permintaan global,” tuturnya.

Pemulihan pada 2020 dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi global setelah penurunan tajam sebelumnya. Penurunan pada 2021 dampak pandemi Covid-19 terhadap permintaan energi global, sementara kenaikan signifikan pada 2022 mencerminkan pemulihan ekonomi yang lebih lanjut atau peningkatan permintaan batubara.

Di sisi lain, ekspor batu bara Kaltim, salah satu produsen terbesar di Indonesia, menunjukkan kenaikan pada 2019, diikuti oleh penurunan pada 2020 akibat pandemi Covid–19.

Permintaan batubara Kaltim kembali meningkat hingga 235,93 pada 2021 seiring dengan lonjakan permintaan dari Tiongkok dan India yang memerlukan pasukan batubara untuk energi listrik serta adanya krisis energi dunia terutama di Eropa. Namun pada 2022, permintaan terhadap batu bara tersebut mulai menurun.

Berdasarkan wilayah tujuan ekspor batubara Kaltim pada 2022, Kawasan Asia masih merupakan pasar terbesar bagi komoditas Kaltim yaitu mencapai 76,19 persen dari total ekspor batu bara. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 77,70 persen.

Adapun lima negara yang menjadi tujuan importir batubara Kaltim terbesar adalah adalah Tiongkok, India, Jepang, Filipina, dan Malaysia.

Pada 2022, secara volume ekspor Kaltim ke Tiongkok, Filipina, Malaysia, dan Pilipina mengalami penurunan kecuali ke India dan Jepang.

“Ini tentunya menjadi tantangan bagi Kaltim, pasar batu bara beberapa negara mengalami penurunan,” katanya.

Pada tahun 2021, ekspor batu bara kaltim ke Tiongkok mencapai 95,49 juta ton. Angka ini menurun hampir 25 persen pada 2022, yaitu pada kisaran 71,84 juta ton. Sementara itu ekspor batu bara kaltim ke Malaysia, dan Philipina masing-masing turun 14,44 persen dan 7,01 persen. Sebaliknya ekspor batu bara ke India dan Jepang mengalami kenaikan 28,10 persen dan 14,62 persen. (ndu/jnr)

Editor : Indra Zakaria
#batu bara