Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Harga Kopi Liberika Terus Menjanjikan, Petani Kopi di Kalbar Belum Pikir Pindah ke Sawit

Indra Zakaria • Rabu, 11 Desember 2024 - 17:26 WIB
Petani perempuan terlibat dalam proses memanen kopi liberika. DOKUMENTASI IWAN
Petani perempuan terlibat dalam proses memanen kopi liberika. DOKUMENTASI IWAN

 

Kopi liberika Kalimantan Barat (Kalbar) mungkin bukan nama yang sering terdengar di antara deretan kopi Indonesia yang mendunia seperti arabika atau robusta. Namun, beberapa tahun terakhir, biji kopi dari dataran rendah Kalbar ini mulai merangkak naik ke industri kopi nasional bahkan internasional. Para penggeraknya didominasi perempuan.

Oleh : Siti Sulbiyah

Dartin, perempuan petani yang mengambil andil dalam industri kopi liberika. Sejak 1997, ia tekun mengelola lahan kopi di desanya, menghadapi berbagai tantangan. Setiap satu hingga dua minggu sekali, Dartin memanen hasil kebunnya.    “Sekali panen rata-rata bisa sembilan kilogram biji kopi,” kata warga Desa Podorukun, Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat.

Dartin tak sendiri. Ada banyak perempuan petani di desanya menjadi petani liberika. Perjalanan mereka sebagai petani kopi tidak selalu mulus.

Dartin mengisahkan masa-masa sulit ketika harga kopi liberika hanya berkisar Rp 15–16 ribu per kilogram. Saat itu, ia sempat berpikir untuk menggantinya dengan tanaman sawit yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Namun, kenaikan harga kopi di tahun-tahun berikutnya menjadi alasan baginya untuk tetap setia pada tanaman liberika.

“Sekarang kopi sudah 65 ribu per kilogram,” tuturnya. Harga yang terus meningkat ini tidak lepas dari peran koperasi seperti Koperasi Serba Usaha (KSU) Lumbung Pangan Perempuan Sejahtera, yang membantu memasarkan biji kopi liberika hasil panennya ke pasar industri.

Dartin juga merasa bersyukur karena keputusannya untuk tetap menanam kopi liberika ternyata tepat. Kini, dengan meningkatnya minat terhadap kopi liberika di Kalimantan Barat, ia bisa merasakan hasil dari kerja kerasnya selama puluhan tahun.

Cerita Dartin menjadi salah satu potret bagaimana petani perempuan di Kalbar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi besar dalam menghidupkan industri kopi liberika.


Dari sisi hilir, industri liberika juga digerakkan oleh perempuan. Adalah pemilik 101 Coffee House Siti Masitha, turut mengenalkan kopi liberika di kancah nasional dan internasional. Kopi jenis ini telah diekspor sampai ke Amerika, Taiwan, Thailand, Perancis, dan beberapa negara lainnya dalam bentuk kemasan siap konsumsi.

Sitha mengatakan kopi liberika terkenal dengan kafeinnya yang rendah. Ia pernah melakukan uji laboratorium melalui dua lembaga terpercaya. Hasilnya menunjukkan bahwa kafein pada kopi liberika jauh lebih rendah dibandingkan jenis kopi lainnya.

“Liberika hanya 0,0 persen sekian, robusta paling tinggi empat sampai enam persen, sedangkan arabika masih di bawah dua persen,” sebutnya.

Banyak yang mencari kopi dengan kafein yang rendah dan liberika adalah solusinya. Tak heran bila kopi ini menjadi incaran konsumen. Produk kopi 1O1 Coffee House lahir untuk mengangkat citra kopi lokal, membuka lapangan pekerjaan, hingga memberdayakan petani lokal.

Sejak menekuni usaha kopi lokal, Sitha menemui beragam persoalan yang membuat petani berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Salah satunya adalah kopi jenis liberika yang produksinya sangat terbatas. Permasalahan-permasalahan di hulu dari kopi liberika adalah harganya yang terlalu murah.

“Harganya hancur di daerah seharga cuman dihargai Rp20-25 ribu per kilo,” tuturnya. Harga yang rendah ini dikarenakan biji kopi yang tidak dibedakan berdasarkan grade atau kualitas, hingga adanya keterlibatan tangan-tangan tengkulak. Karena harganya yang kurang menarik inilah, tidak sedikit yang mengalihkan kebun kopi mereka menjadi sawit.

“Makanya mereka lebih tertarik untuk menanam sawit ketimbang kopi,” tegasnya. Ia mengakui banyak tantangan di lapangan terutama terkait edukasi kepada petani. Upaya yang dilakukan sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Saat ini ada sejumlah petani yang mau bekerja sama dengan menjadi penyuplai kopi liberika grade yang baik.

“Kami siap jadi pembeli berapa kilogram pun akan dibeli asal grade-nya yang bagus,” tuturnya. Saat ini, suplai dari petani kopi memang tidak bisa dikatakan konsisten. Terkadang 100 kilogram, terkadang di atas atau di bawah itu. Di sisi lain, permintaan kopi liberika cukup besar. “Sebenarnya banyak permintaan dari luar tapi saya tidak berani terima karena pasokannya sangat-sangat terbatas,” pungkasnya.

Diketahui, luas budidaya kopi di Kalbar saat ini tercatat 7.673 hektare. Sebagian besar kopi tersebut jenis liberika karena sangat cocok tumbuh di dataran rendah.

Salah satu merek kopi lokal yang menyediakan jenis liberika adalah Kojal Coffee Plantation. Sang pemilik, Gusti Iwan Darmawan, mengisahkan bagaimana kopi liberika dulunya dipandang sebelah mata. “Sejak Kojal masuk ke industri kopi pada 2017, kami mulai dengan mendampingi petani dalam meningkatkan mutu kopi liberika agar lebih kompetitif di pasar nasional maupun internasional,” ujarnya.

Iwan mengakui sebagian besar petani liberika adalah perempuan. Kopi Kojal miliknya mendapatkan pasokan dari petani di desa Podo Rukun. “Dalam satu bulan itu biasanya kapasitas yang dikirim ke kami itu kurang lebih 500-800 kg,” katanya. 

Menurutnya, hingga 60 persen citarasa kopi ditentukan oleh petani. Mulai dari perawatan tanaman, proses panen, hingga penjemuran, semuanya berkontribusi besar terhadap kualitas akhir biji kopi. Selain itu, industri pengolahan menyumbang sekitar 30 persen terhadap citarasa kopi, sementara 10 persen lainnya ada di tangan barista. Setiap proses tersebut melibatkan perempuan.

“Yang paling penting porsinya di tingkat petani,” jelas Gusti Iwan. Namun, tanggung jawab besar ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi petani. Penambahan nilai, mutu, konsistensi, dan kuantitas kopi bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Petani harus mampu mengelola waktu dengan baik agar semua proses berjalan lancar.

Untuk terus meningkatkan industri kopi liberika ini, salah satu langkah penting yang Iwan ambil adalah memotong rantai pasok yang panjang. Sebelum 2020, tengkulak masih menjadi penghubung utama antara petani dan pembeli. Namun, Kojal berhasil menciptakan sistem yang memungkinkan petani bertemu langsung dengan pembeli, sehingga mereka bisa menjual kopi dengan harga yang lebih baik.

Hingga kini, Kojal beroperasi di Kayong Utara dan sedang memperluas jangkauan ke wilayah lain di Kalbar, seperti di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Melawi. Kolaborasi dengan industri kopi lokal pun terus diperkuat untuk menciptakan rantai pasok yang lebih efisien. **

 

 

 

Editor : Indra Zakaria