BALIKPAPAN – Industri perhotelan di Kota Balikpapan mengawali tahun 2026 dengan kondisi yang cenderung landai. Berdasarkan catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan, tingkat hunian hotel atau okupansi pada Januari 2026 masih tertahan di angka rata-rata 40 persen. Situasi ini dinilai sebagai dampak dari tingginya mobilitas masyarakat yang telah terkuras pada periode akhir tahun sebelumnya.
Ketua PHRI Balikpapan, Sugianto, menjelaskan bahwa melambatnya aktivitas kunjungan di awal tahun merupakan pola musiman yang lumrah terjadi. Setelah euforia perjalanan pada akhir tahun 2025 usai, intensitas tamu yang menginap di Balikpapan belum menunjukkan pergerakan signifikan hingga memasuki pertengahan Februari ini. Kondisi tersebut diperkirakan akan menghadapi tantangan lebih lanjut seiring mendekatnya bulan Ramadan.
Menurut tren tahunan, tingkat hunian kamar hotel biasanya justru mengalami penurunan saat memasuki bulan puasa. Meski demikian, para pelaku usaha perhotelan di Kota Minyak telah menyiapkan strategi khusus untuk menjaga stabilitas pendapatan. Fokus utama industri kini beralih dari penjualan kamar ke sektor kuliner melalui penyediaan berbagai paket berbuka puasa yang inovatif.
Optimalisasi pendapatan melalui promo menarik dan paket kombinasi selama Ramadan diharapkan mampu menjadi penopang ekonomi perhotelan di tengah lesunya okupansi. PHRI Balikpapan optimis bahwa kreativitas dalam menawarkan paket buka puasa tersebut dapat menjaga arus kas operasional hingga tiba masanya periode libur Lebaran, di mana kunjungan diprediksi akan kembali melonjak. (*)
Editor : Indra Zakaria