PROKAL.CO- Pemerintah memprediksi adanya potensi kenaikan angka inflasi nasional segera setelah momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa proyeksi lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh faktor perbandingan atau base effect yang rendah pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat dinamika harga di tahun 2026 akan terlihat jauh lebih kontras dalam catatan statistik tahunan.
Menurut Airlangga, rendahnya basis inflasi tahun lalu sangat dipengaruhi oleh kebijakan tarif listrik yang sempat menekan angka inflasi, bahkan memicu deflasi pada komponen tersebut. "Tahun kemarin sampai Februari itu ada kebijakan listrik yang membuat inflasi dari segi listriknya deflasi. Karena tahun ini kondisi tersebut tidak ada, maka secara otomatis angkanya akan terlihat lebih tinggi," jelas Airlangga saat memberikan keterangan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Minggu (22/3).
Meskipun terdapat bayang-bayang kenaikan inflasi, Airlangga tetap optimis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai geliat aktivitas ekonomi selama Ramadan 2026 menunjukkan tren yang sangat positif dengan peningkatan konsumsi masyarakat yang signifikan. Hal ini memperkuat keyakinan pemerintah bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen dapat tercapai hingga akhir tahun, didorong oleh perputaran uang selama masa libur panjang.
Di sisi lain, pengendalian harga pangan tetap menjadi prioritas utama guna meredam dampak inflasi yang lebih luas. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, memastikan bahwa fluktuasi harga kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri terus terjaga melalui berbagai intervensi. Program seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras serta Gerakan Pangan Murah (GPM) yang telah dilaksanakan sebanyak 789 kali di berbagai provinsi menjadi bantalan utama untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global. (*)
Editor : Indra Zakaria