Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pasar Global Lesu, Stok Sawit Nasional Justru Menumpuk di Akhir Maret 2026

Redaksi Prokal • Rabu, 27 Mei 2026 | 17:02 WIB
Truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.)
Truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.)

PROKAL.CO- Industri kelapa sawit Indonesia tengah menghadapi tantangan berat sepanjang Maret 2026. Di saat volume produksi crude palm oil (CPO) mengalami penurunan yang cukup signifikan, kinerja ekspor produk sawit nasional justru anjlok lebih tajam hingga melampaui angka 34 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kombinasi antara lesunya permintaan pasar internasional dan melemahnya konsumsi di dalam negeri ini pada akhirnya membuat sisa pasokan menumpuk, sehingga stok sawit nasional melonjak di akhir bulan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, memaparkan bahwa produksi CPO pada Maret 2026 hanya menyentuh angka 4,403 juta ton. Jumlah tersebut memperlihatkan adanya penurunan sebesar 12,22 persen dari pencapaian Februari 2026 yang sempat mengทะbus 5,015 juta ton. Tren penurunan ini juga diikuti oleh produksi minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) yang merosot dari 485 ribu ton menjadi 418 ribu ton.

"Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Maret 2026 hanya mencapai 4,821 juta ton atau turun 12,35 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar 5,500 juta ton," ujar Mukti Sardjono dalam keterangan resminya.

Ternyata, kelesuan tidak hanya memukul sektor hulu atau produksi saja. Sektor konsumsi domestik untuk berbagai produk sawit sepanjang Maret 2026 ikut mengalami kontraksi sebesar 8,25 persen. Secara agregat, kebutuhan pasar dalam negeri menyusut dari 2,305 juta ton pada Februari menjadi 2,115 juta ton pada Maret 2026.

Penurunan terdalam di pasar lokal ini bersumber dari sektor pangan, di mana konsumsi berbasis sawit melorot 9,03 persen menjadi 897 ribu ton dari bulan sebelumnya yang berada di angka 986 ribu ton. Tidak ketinggalan, penyerapan untuk bahan bakar biodiesel juga melemah 7,71 persen menjadi 1,056 juta ton, diikuti sektor oleokimia yang turun 7,43 persen ke angka 162 ribu ton.

"Meski demikian, secara tahunan atau year on year (YoY), konsumsi sawit nasional hingga Maret 2026 masih mencatat kenaikan. Total konsumsi mencapai 6,524 juta ton atau naik 7,47 persen dibanding periode sama tahun 2025 sebesar 6,071 juta ton," kata Mukti menjelaskan secercah sentimen positif di pasar domestik.

Namun, hantaman paling keras memang terlihat nyata pada kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Total ekspor produk sawit nasional pada Maret 2026 hanya mampu membukukan volume sebesar 2,168 juta ton, alias terjun bebas hingga 34,25 persen dibandingkan perolehan Februari yang mencapai 3,297 juta ton. Ekspor CPO mentah menjadi sektor yang paling terpukul karena volumenya anjlok drastis sebesar 75,61 persen, dari 395 ribu ton menjadi hanya 96 ribu ton.

Kemerosotan ini juga merembet pada pengapalan olahan minyak inti sawit yang turun 44,67 persen menjadi 94 ribu ton, serta olahan minyak sawit yang terpangkas 33,57 persen menjadi 1,506 juta ton. Di tengah rapor merah tersebut, hanya sektor oleokimia yang berhasil menyelamatkan wajah ekspor Indonesia dengan mencatat kenaikan tipis dari 462 ribu ton menjadi 468 ribu ton.

Faktor utama di balik anjloknya volume ekspor ini adalah kebijakan pengurangan pembelian dari sejumlah negara tujuan utama kelapa sawit Indonesia. Pasar raksasa seperti China memangkas permintaan hingga 314 ribu ton dan India berkurang sebesar 291 ribu ton. Penurunan ekspor global ini juga menyebar ke Pakistan sebesar 113 ribu ton, Bangladesh 90 ribu ton, kawasan Afrika 81 ribu ton, Timur Tengah 77 ribu ton, Malaysia 71 ribu ton, Amerika Serikat 41 ribu ton, serta Uni Eropa sebesar 25 ribu ton. Sebaliknya, Rusia menjadi satu-satunya negara yang mencatatkan kenaikan impor dari Indonesia sebesar 24 ribu ton.

Dampak langsung dari penurunan volume kapal ekspor ini membuat nilai perdagangan sawit Indonesia ikut menyusut tajam dari US$ 3,69 miliar pada Februari menjadi US$ 2,61 milar pada Maret, atau terkoreksi sebesar 29,27 persen. Untungnya, jika ditinjau secara tahunan, akumulasi nilai ekspor sawit kumulatif hingga Maret 2026 masih tumbuh positif 10,40 persen ke angka US$ 9,66 miliar berkat tertolong tingginya harga rata-rata CPO global di awal tahun yang mencapai US$ 1.356 per ton CIF Rotterdam.

Pada akhirnya, ketika laju produksi hulu melemah namun penyerapan pasar ekspor dan lokal justru menyusut lebih dalam, hukum pasar membuat sisa komoditas menumpuk di gudang penyimpanan. Berbekal stok awal Maret sebesar 2,026 juta ton, ditambah total produksi 4,821 juta ton, lalu dikurangi konsumsi domestik 2,115 juta ton dan ekspor 2,168 juta ton, stok akhir sawit Indonesia di penghujung Maret 2026 membubung tinggi ke angka 2,568 juta ton. Lonjakan simpanan ini menjadi sinyal kuat bagi para pelaku usaha mengenai adanya perlambatan nyata pada daya serap pasar global maupun dalam negeri. (*)

Editor : Indra Zakaria
#sawit