PROKAL.CO- Peta perjalanan wisata masyarakat Kalimantan Timur tengah mengalami pergeseran yang sangat drastis dalam beberapa waktu terakhir. Uniknya, ketimbang menjelajahi keindahan alam di dalam negeri, masyarakat kelas menengah di Bumi Etam kini justru berbondong-bondong mengincar negara-negara di kawasan ASEAN sebagai destinasi liburan baru mereka. Fenomena ini dipicu oleh harga tiket penerbangan internasional yang dinilai jauh lebih kompetitif dan ramah di kantong dibandingkan dengan tarif sejumlah rute domestik.
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam mendadak menjadi primadona baru untuk kebutuhan liburan keluarga maupun pelesiran pribadi. Selain faktor ongkos yang lebih miring, jarak tempuh yang relatif dekat dan efisien dari bandara utama di Kaltim membuat opsi terbang ke luar negeri terasa jauh lebih memikat bagi para pelancong lokal.
Owner Trans Borneo Tours and Travel, Joko Purwanto, mengungkapkan bahwa pergeseran ini terjadi karena masyarakat saat ini jauh lebih realistis dan jeli dalam menghitung pengeluaran perjalanan mereka. Pilihan berlibur kini tidak lagi didasarkan pada gengsi, melainkan pada kalkulasi efisiensi biaya yang nyata di lapangan.
“Sekarang ini penerbangan luar negeri malah ada yang lebih murah dibanding dalam negeri. Jadi orang melihat pilihan lain untuk liburan. Orang sekarang tinggal memilih mau ke mana. Kadang ke Malaysia bisa lebih murah dibanding perjalanan domestik,” ujar Joko Purwanto membeberkan realita pasar saat ini.
Menurut analisisnya, fenomena ini sudah bukan lagi sekadar tren musiman yang akan hilang dalam hitungan bulan, melainkan telah membentuk pola perilaku baru bagi industri pariwisata di Kalimantan Timur. Kehadiran berbagai pilihan rute internasional langsung dari Balikpapan dinilai sukses membuka mata masyarakat bahwa berwisata ke luar negeri tidak lagi identik dengan biaya selangit yang menguras tabungan seperti beberapa tahun silam.
Selain masalah harga tiket yang menjadi pemicu utama, masifnya pergeseran minat wisata ini juga didukung oleh kemudahan akses informasi perjalanan digital di era modern. Masyarakat kini bisa dengan sangat mudah merancang rencana perjalanan sendiri (itinerary), membandingkan harga akomodasi, hingga memanfaatkan perang tarif dan gencarnya promo yang ditawarkan oleh berbagai maskapai penerbangan internasional.
Kondisi ini tentu menjadi angin segar sekaligus peluang baru bagi para pelaku industri agen perjalanan lokal untuk menata ulang paket-paket wisata mereka. Di sisi lain, fenomena ini sekaligus menjadi tamparan bagi sektor pariwisata hulu di dalam negeri agar bisa segera mengevaluasi keterjangkauan tarif transportasi domestik, sehingga destinasi wisata nusantara tidak semakin kehilangan daya taringnya di rumah sendiri. (*)
Editor : Indra Zakaria