Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jaga Harga Tetap Terjangkau, Produsen Tempe Tenggarong Pilih Menyusutkan Ukuran Jualan

Elmo Satria Nugraha • Minggu, 14 Juni 2026 | 21:39 WIB
Tempe di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Tempe di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Tempe yang selama ini menjadi lauk sederhana dan terjangkau bagi banyak keluarga kini ikut terdampak kenaikan harga bahan baku. Di tengah harga kedelai yang terus merangkak naik, produsen tempe di Tenggarong terpaksa mencari cara agar produknya tetap bisa dibeli masyarakat tanpa membebani kantong konsumen.

Pilihan yang diambil bukan menaikkan harga jual. Sebaliknya, ukuran tempe mulai diperkecil agar usaha tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi yang terus terjadi sepanjang semester pertama 2026. Kondisi itu dirasakan Ilham Zakariah, pemilik Bandar Tempe Underground di Jalan Sangkulirang, Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong. Menurutnya, kenaikan harga kedelai membuat produsen harus melakukan penyesuaian agar tidak kehilangan pelanggan di tengah persaingan usaha yang cukup ketat.

“Untuk sekarang ukuran tempe agak kami kecilkan menyesuaikan harga bahan baku. Kalau harga dinaikkan, banyak yang tidak mau dan bisa jadi beli ke tempat lain,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (13/6/2026). Ilham mengungkapkan harga kedelai saat ini mencapai Rp585 ribu per karung berisi 50 kilogram. Angka tersebut naik sekitar Rp85 ribu dibandingkan Januari 2026 yang masih berada di kisaran Rp500 ribu per karung.

Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi. Sebagai pelaku usaha, ia membutuhkan sekitar 30 karung kedelai setiap bulan untuk menjaga pasokan tempe ke pasar dan pelanggan tetap. Dalam sehari, Bandar Tempe Underground mengolah sekitar 50 kilogram kedelai. Jumlah tersebut masih mampu diserap pasar yang selama ini menjadi pelanggan usaha miliknya.

“Kalau saya di pasar yang ada sekarang masih kuat menyerap produksi sekitar 50 kilogram per hari,” katanya. Di balik tempe yang tersaji di meja makan masyarakat, terdapat proses produksi yang membutuhkan waktu cukup panjang. Kedelai harus melalui tahap perendaman, penggilingan, perebusan, pengemasan hingga fermentasi sebelum akhirnya siap dipasarkan.

“Kalau dari bulan Januari itu sekitar Rp500 ribu per karung. Sekarang sudah Rp585 ribu, jadi naik sekitar Rp85 ribu dalam setengah tahun ini,” jelasnya. Meski biaya bahan baku meningkat, Ilham mengaku belum menerima keluhan berarti dari pelanggan maupun agen penjual. Menurutnya, sebagian besar konsumen memahami kondisi pasar yang sedang terjadi.

Saat ini Bandar Tempe Underground memasarkan produk dalam tiga ukuran, yakni kecil, tanggung, dan jumbo. Penyesuaian ukuran menjadi strategi yang dianggap paling realistis untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga kedelai juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil yang baru merintis. Berbeda dengan usaha yang telah memiliki pelanggan tetap, pelaku usaha baru dinilai lebih rentan terdampak jika harga bahan baku terus mengalami kenaikan.

“Harapannya jangan naik lagi. Kalau naik terus, yang paling terasa itu pengusaha yang baru memulai usaha. Kalau yang sudah punya pelanggan tetap mungkin masih bisa bertahan, tapi yang baru merintis pasti lebih berat,” tutupnya.

Bagi masyarakat, perubahan itu mungkin hanya terlihat dari ukuran tempe yang sedikit lebih kecil dari biasanya. Namun bagi para produsen, langkah tersebut menjadi cara bertahan agar makanan rakyat yang selama ini mudah dijangkau tetap tersedia di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#tempe