PROKAL.CO, TENGGARONG – Aktivitas pelayaran yang kembali menggeliat di Tanjung Santan, Kutai Kartanegara (Kukar), mulai membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Bukan hanya kapal yang kembali hilir mudik, sekitar 700 tenaga kerja juga telah terserap dalam kegiatan bongkar muat di Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa.
Sebelum matahari terbit, aktivitas masyarakat Desa Semangko, Kecamatan Marang Kayu, sudah dimulai. Nelayan berangkat melaut, sementara di perairan Tanjung Santan kapal-kapal menjalankan aktivitas bongkar muat. Pemandangan itu menghidupkan kembali kawasan yang memiliki sejarah panjang sebagai simpul pelayaran Kukar. Sejak 1973, Tanjung Santan telah terhubung dengan aktivitas pelayaran dan pernah ramai oleh kapal tanker migas Pertamina.
“Zaman dulu Bea Cukai sudah ada di sini. Kapal tanker hilir mudik. Sekarang giliran batu bara,” kata Kepala Desa Semangko, Ansar K. Kini, aktivitas perdagangan luar negeri kembali bergerak. Pada Juli 2026, Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa memperoleh persetujuan untuk melayani perdagangan luar negeri setelah melalui rangkaian legalitas kepelabuhanan dan kepabeanan.
Kepala KUPP Kelas III Tanjung Santan Abdul Wahid menyebut kondisi tersebut sebagai kebangkitan kembali aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. “Bangkit lagi,” ujarnya. Terminal Khusus tersebut saat ini melayani perusahaan tambang yang telah menjadi mitra. Sebelumnya, aktivitas domestik juga telah berlangsung dengan sekitar 16 kegiatan kapal.
Namun, bagi masyarakat pesisir, ukuran penting dari geliat tersebut bukan hanya jumlah kapal yang datang dan pergi. Perhatian mereka tertuju pada seberapa besar aktivitas pelabuhan mampu menciptakan pekerjaan dan menggerakkan usaha di daratan.
700 Tenaga Kerja Terserap
Data KUPP Kelas III Tanjung Santan mencatat sekitar 700 tenaga kerja telah terserap untuk menunjang kegiatan bongkar muat. Tenaga kerja tersebut antara lain berasal dari wilayah Marang Kayu dan Muara Badak. Kehadiran aktivitas pelabuhan juga membuka kembali kesempatan bagi sebagian warga yang sebelumnya kehilangan pekerjaan. Koperasi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) menjadi salah satu penghubung antara kebutuhan operasional pelabuhan dengan masyarakat sekitar.
“Jalannya koperasi ini nolong teman-teman yang kena PHK. Bisa kerja lagi, walau belum tiap hari,” kata Anwar, tokoh masyarakat pesisir Kukar. Bagi warga, angka tersebut diharapkan bukan menjadi batas akhir. Jika aktivitas pelabuhan terus berkembang, kebutuhan tenaga kerja dan jasa pendukung juga berpotensi meningkat.
Peluang ekonomi juga diharapkan tidak berhenti pada pekerjaan di terminal. Kebutuhan kapal dan aktivitas pelabuhan dapat membuka pasar baru bagi produk masyarakat sekitar. “Kalau kapal butuh logistik, kenapa tidak ambil dari kita? Itu pesan kami ke perusahaan,” ujar Anwar.
Ikan hasil tangkapan nelayan, sayuran, beras, hingga kebutuhan lainnya dinilai dapat masuk ke dalam rantai pasok apabila kebutuhan operasional kapal dapat dipenuhi dari wilayah sekitar. Dengan begitu, aktivitas ekspor batu bara tidak hanya menciptakan pekerjaan di titik bongkar muat. Pergerakan kapal juga dapat menjadi pintu bagi nelayan, petani, pedagang, dan pelaku usaha lokal untuk mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi yang tumbuh di kawasan tersebut.
Dari Kapal ke Warung dan Tambak
PT Prima Dermaga Perkasa juga memiliki kemitraan dengan Pemerintah Desa Semangko. Kemitraan tersebut menjadi salah satu ruang untuk menghubungkan aktivitas perusahaan dengan kebutuhan dan peluang ekonomi masyarakat sekitar.
Harapannya, uang yang berputar di kawasan pelabuhan tidak berhenti di terminal. Perputaran itu dapat mengalir ke warung, pasar, nelayan, petani, tambak, hingga usaha kecil yang menyediakan kebutuhan aktivitas pelabuhan. Peluang tersebut menjadi penting bagi Kukar yang perekonomiannya masih kuat ditopang sektor berbasis sumber daya alam. Berdasarkan data BPS, sektor pertambangan menyumbang 57,73 persen terhadap perekonomian Kukar pada 2024, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 14,48 persen.
Besarnya kontribusi sektor tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam memiliki posisi penting. Tantangannya adalah memastikan manfaatnya tidak berhenti pada pergerakan komoditas, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi di daerah asalnya.
Tanjung Santan memberikan gambaran sederhana mengenai peluang tersebut. Batu bara dimuat ke kapal, tenaga kerja lokal terlibat dalam bongkar muat, kapal membutuhkan logistik, sementara masyarakat sekitar memiliki hasil perikanan, pertanian, perdagangan, dan jasa yang dapat masuk ke dalam rantai ekonomi. “Potensinya besar untuk teman-teman pencari kerja,” kata Ansar.
Jangan Hanya Jadi Jalur Komoditas
Meski peluang mulai terbuka, dampak ekonomi terhadap masyarakat belum dapat diukur secara pasti. Belum tersedia data mengenai peningkatan omzet warung, pendapatan nelayan, atau nilai transaksi usaha lokal yang secara langsung berasal dari meningkatnya aktivitas pelabuhan.
Karena itu, geliat Tanjung Santan masih menjadi peluang yang harus dibuktikan melalui keberlanjutan aktivitas dan semakin luasnya keterlibatan masyarakat lokal.Kepala KUPP Kelas III Tanjung Santan Abdul Wahid menilai kawasan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh, tetapi manfaatnya perlu ikut dirasakan masyarakat di daratan.
“Jangan sampai Tanjung Santan hanya jadi tempat lewatnya komoditas. Harus jadi simpul yang menghidupkan ekonomi daratan juga,” tegas Abdul Wahid.
Tanjung Santan kini memasuki babak baru setelah aktivitas perdagangan luar negeri kembali bergerak. Bagi masyarakat pesisir, keberhasilan geliat tersebut pada akhirnya bukan sekadar seberapa banyak batu bara yang meninggalkan perairan Kukar, melainkan seberapa banyak pekerjaan, pasar, dan peluang usaha yang ikut tumbuh di daratan. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co