Tiongkok "Lapar" Batu Bara, Sektor Tambang Kaltim Bangkit dan Tren Positif di Triwulan II 2026

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:00 WIB
Meski masih terkontraksi 5,70 persen yoy, volume ekspor batu bara membaik pada triwulan II dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 7,17 persen yoy.
Meski masih terkontraksi 5,70 persen yoy, volume ekspor batu bara membaik pada triwulan II dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi 7,17 persen yoy.

 SAMARINDA – Sektor pertambangan di Kalimantan Timur (Kaltim) perlahan mulai bangkit dan kembali menemukan pijakan kokoh pada triwulan II 2026. Bergeliatnya aktivitas produksi di dalam negeri beroperasi seiring dengan meningkatnya pengiriman ekspor emas hitam, khususnya ke pasar Tiongkok yang melonjak tajam.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengungkapkan bahwa Lapangan Usaha (LU) Pertambangan dan Penggalian berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,43 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026. Capaian ini menjadi sinyal positif setelah pada triwulan sebelumnya sempat merosot dan terkontraksi di angka 1,19 persen.

Laju perbaikan sektor ini ditopang oleh kepastian regulasi operasional seiring telah rampungnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Hal tersebut memberi angin segar bagi para pelaku usaha untuk memacu volume produksi demi memenuhi permintaan pasar internasional.

“Volume ekspor batu bara mengalami perbaikan meski masih terkontraksi 5,70 persen (yoy), membaik dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang terkontraksi 7,17 persen (yoy),” papar Bayuadi. Di tengah dinamika pasar global, Tiongkok tampil sebagai juru selamat ekspor batu bara Bumi Etam. Pengiriman batu bara ke Negeri Tirai Bambu tersebut melesat drastis hingga tumbuh 20,90 persen (yoy).

Bayuadi menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dari Tiongkok dipicu oleh penurunan produksi batu bara domestik di negara tersebut. Ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan energi dalam negeri Tiongkok ini dimanfaatkan dengan baik oleh para eksportir asal Kaltim.

"Peningkatan ekspor ke Tiongkok berlangsung di tengah kontraksi produksi batu bara domestik negara tersebut. Situasi itu membuka ruang bagi peningkatan permintaan terhadap batu bara Indonesia," lanjutnya.

Di sisi lain, tren positif ke pasar Tiongkok menjadi penyeimbang di kala pengiriman ke kawasan lain masih tertatih. Ekspor batu bara Kaltim ke negara-negara ASEAN dan India tercatat masih terkontraksi masing-masing sebesar 2,06 persen dan 21,87 persen (yoy).

Kendati demikian, secara agregat akumulasi volume ekspor batu bara ke tiga wilayah tujuan utama tersebut masih mampu bertahan di zona hijau dengan pertumbuhan tipis 1,14 persen (yoy). Tingginya penyerapan dari Tiongkok terbukti efektif membendung penurunan kinerja ekspor Kaltim agar tidak terperosok lebih dalam. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
batu bara