LONDON – Berakhir sudah masa kepemimpinan Thomas Frank di Tottenham Hotspur. Meski sempat menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi bahwa posisinya tetap aman, manajemen Spurs akhirnya resmi mendepak juru taktik tersebut pada Rabu (11/2/2026). Keputusan ini diambil hanya berselang singkat setelah kekalahan tipis 1-2 dari Newcastle United di kandang sendiri.
Sepanjang laga kontra Newcastle, tekanan bagi Frank terasa sangat nyata. Suporter tuan rumah terus menyanyikan ejekan bahwa ia akan dipecat, sembari meneriakkan nama mantan manajer kesayangan mereka, Mauricio Pochettino. Kekalahan ke-11 musim ini tersebut menjadi titik nadir bagi Spurs yang kini terperosok ke posisi 16 klasemen Liga Inggris, hanya terpaut lima poin dari zona degradasi.
Dalam jalannya pertandingan, Newcastle memimpin lebih dulu melalui gol Malick Thiaw di masa injury time babak pertama. Harapan sempat muncul saat Archie Gray menyamakan kedudukan, namun Jacob Ramsey mengunci kemenangan Newcastle pada menit ke-68. Hasil minor ini membuat skuad Spurs dihujani cemoohan dari pendukungnya sendiri, baik saat jeda turun minum maupun ketika peluit panjang dibunyikan.
Menariknya, sesaat setelah laga berakhir, Frank masih bersikeras bahwa dirinya adalah sosok yang tepat untuk memimpin Tottenham. Ia bahkan sempat yakin akan tetap mendampingi tim dalam laga krusial bertajuk Derby London Utara melawan Arsenal pada 22 Februari mendatang. Frank berkilah bahwa keterpurukan tim musim ini tidak lepas dari badai cedera yang menghantam 11 hingga 12 pemain pilar, termasuk absennya kapten Cristian Romero akibat sanksi kartu merah.
Namun, pembelaan tersebut tidak cukup bagi manajemen untuk mempertahankan sang pelatih. Rekor buruk Spurs yang hanya memenangi dua dari 17 pertandingan liga terakhir menjadi bukti nyata merosotnya performa tim di bawah arahannya. Kini, di tengah jeda 12 hari sebelum menghadapi pemuncak klasemen Arsenal, Tottenham Hotspur harus bergegas mencari nakhoda baru untuk menyelamatkan mereka dari ancaman degradasi. (*)
Editor : Indra Zakaria