MANCHESTER – Manajer Manchester City, Pep Guardiola, kembali menegaskan posisi kemanusiaannya dengan menyuarakan pembelaan terhadap rakyat Palestina di tengah konflik global yang masih berkecamuk. Berbicara dalam konferensi pers pra-pertandingan Piala Liga Inggris melawan Tottenham Hotspur, pelatih asal Spanyol tersebut menyatakan bahwa kekerasan dan perang adalah persoalan mendasar umat manusia yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Dalam pernyataan yang dilansir dari laman Al-Jazeera, Guardiola mengungkapkan rasa prihatinnya yang mendalam atas tragedi kemanusiaan di Gaza. Baginya, menyuarakan kebenaran adalah kewajiban karena sikap diam di tengah penderitaan sesama manusia bukanlah sebuah pilihan yang etis. Ia mengaku sangat terguncang melihat dokumentasi visual mengenai jatuhnya ribuan korban warga sipil tak berdosa.
Guardiola secara tegas menyebut situasi di Palestina sebagai tragedi yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Menurut mantan pelatih Barcelona tersebut, perlindungan terhadap nyawa manusia seharusnya menjadi prioritas utama di era modern. Ia menyindir kontradiksi kemajuan teknologi saat ini yang seharusnya membawa kehidupan yang lebih baik, bukan justru digunakan sebagai alat untuk saling membunuh.
Aksi vokal ini bukanlah yang pertama kalinya. Hanya dalam lima hari terakhir, ini merupakan momen kedua bagi Guardiola mengangkat isu Gaza ke ruang publik. Sebelumnya, ia sempat tertangkap kamera mengenakan keffiyeh—simbol solidaritas Palestina—saat menghadiri acara amal di Spanyol. Pada kesempatan itu, ia mengecam kebisuan dunia internasional yang dianggap telah meninggalkan rakyat Palestina berjuang sendirian dalam penderitaan.
Berdasarkan data yang beredar, konflik di Gaza telah merenggut sedikitnya 71.803 jiwa dan melukai lebih dari 171.000 orang sejak Oktober 2023. Angka-angka ini menjadi landasan bagi Guardiola untuk terus menggunakan posisinya sebagai figur olahraga ternama demi menyuarakan keadilan. Ia berjanji akan terus bersuara di setiap kesempatan yang dimilikinya hingga tercipta masyarakat dunia yang lebih adil dan damai. (*)
Editor : Indra Zakaria