PARIS – Dunia sepak bola kembali diguncang oleh pernyataan tajam legenda Prancis, Zinedine Zidane. Di tengah kepedihan publik Italia yang harus menyaksikan tim nasional mereka absen di Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, Zidane akhirnya buka suara mengenai memori kelam di Final 2006 dan sebuah "prediksi" yang kini tampak seperti kutukan yang menjadi kenyataan.
Semua penggemar sepak bola tentu ingat peristiwa di Olympiastadion, Berlin, ketika sundulan Zidane ke dada Marco Materazzi mengubah sejarah. Namun, bagi Zidane, momen itu bukan sekadar reaksi impulsif, melainkan sebuah ketidakadilan yang tidak pernah ia lupakan.
Baca Juga: Legenda Bicara: Del Piero Sebut Italia Jadi 'Bahan Olok-olok' Dunia Usai Tragedi Zenica
"Di final itu, Marco Materazzi menghina saudara perempuan saya. Saya mengeluh, tetapi tidak ada tindakan yang diambil," kenang Zidane dengan nada bicara yang masih menyimpan kekecewaan mendalam.
Keputusan wasit untuk mengusir sang maestro dari lapangan hijau menjadi titik balik yang merugikan Prancis. "Ketika saya bereaksi, wasit mengusir saya, dan itu membuat kami kehilangan Piala Dunia. Karier saya berakhir dengan kartu merah," tambahnya. Namun, bagian paling mengejutkan dari pernyataan Zidane adalah apa yang ia sampaikan kepada para pemain Italia di tengah hiruk-pikuk perayaan gelar juara mereka saat itu. Di balik kekecewaannya, Zidane melontarkan sebuah kalimat yang kini bergema kembali dengan sangat kuat.
"Saya memberi tahu mereka saat itu—bahwa itu adalah Piala Dunia terakhir yang akan mereka menangkan."
Pernyataan ini terasa sangat dingin mengingat rekam jejak Gli Azzurri setelah malam di Berlin tersebut. Sejak mengangkat trofi pada 2006, Italia mengalami penurunan performa yang drastis di panggung dunia: tersingkir di fase grup pada 2010 dan 2014, hingga puncaknya gagal lolos ke putaran final pada 2018, 2022, dan kini 2026. Kegagalan Italia untuk lolos ke Piala Dunia ketiga kalinya secara beruntun telah memicu perdebatan di seluruh Eropa. Apakah ini murni masalah teknis dan regenerasi pemain, ataukah ada beban psikologis dari masa lalu yang belum terselesaikan?
Bagi para pendukung Prancis, kata-kata Zidane adalah bentuk keadilan puitis. Namun bagi Italia, pernyataan ini menjadi pengingat pahit bahwa sejak malam itu, mereka seolah kehilangan "sentuhan emas" di turnamen paling bergengsi sejagat raya. (*)
Editor : Indra Zakaria