Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Runtuhnya Dongeng Si Rubah: Dari Juara Premier League ke Kasta Ketiga

Indra Zakaria • Kamis, 23 April 2026 | 22:38 WIB
Sempat membuat kejutan dengan menjadi juara 10 tahun lalu, kini Leiicester City harus bermain di League One. (ipanbarsaybee)
Sempat membuat kejutan dengan menjadi juara 10 tahun lalu, kini Leiicester City harus bermain di League One. (ipanbarsaybee)

PROKAL.CO- Sepuluh tahun silam, dunia sepak bola terpukau oleh dongeng ajaib Leicester City yang berhasil mematahkan segala prediksi untuk menjuarai Premier League. Namun, keajaiban itu kini resmi terkubur setelah "lonceng kematian" berdentang di King Power Stadium pada Selasa malam. Hasil imbang 2-2 melawan Hull City menjadi titik nadir bagi The Foxes yang dipastikan terdegradasi ke League One, kompetisi kasta ketiga liga Inggris. Kemunduran ini terasa sangat menyakitkan karena Leicester harus menelan pil pahit degradasi dua musim berturut-turut, sebuah terjun bebas yang drastis dari puncak kejayaan mereka di musim 2015/2016.

Suasana di tribun King Power Stadium yang dulu penuh dengan air mata bahagia saat mengangkat trofi, kini berubah menjadi medan cemoohan dan kemarahan. Sejak peluit awal dibunyikan, atmosfer negatif sudah terasa dari para suporter yang kecewa. Ketegangan semakin memuncak saat kesalahan fatal kiper veteran Asmir Begovic berujung pada gol pembuka lawan. Meskipun sempat ada secercah harapan lewat gol penalti Jordan James dan tendangan voli Luke Thomas, gol penyeimbang dari Oli McBurnie di menit-menit krusial akhirnya menyegel nasib buruk sang mantan juara.

Kenyataan ini menempatkan Leicester City dalam catatan sejarah kelam sebagai klub kelima di era Premier League yang jatuh hingga ke liga ketiga hanya dalam dua musim. Catatan ini serupa dengan nasib Sunderland dan Wolverhampton Wanderers di masa lalu. Sangat ironis mengingat hanya berselang lima tahun lalu mereka masih merayakan gelar juara FA Cup. Kini, dalam rentang empat musim terakhir, mereka justru mengalami tiga kali degradasi yang menghancurkan stabilitas klub yang sempat dianggap sebagai kekuatan baru di Inggris tersebut.

Menanggapi bencana ini, pelatih Gary Rowett yang baru menukangi tim sejak Februari lalu menyatakan siap pasang badan dan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut. Sementara itu, pemilik klub Aiyawatt "Top" Srivaddhanaprabha menyampaikan permintaan maaf yang mendalam kepada seluruh suporter setianya. Ia mengakui bahwa klub tengah berada di titik terendah dan berjanji akan melakukan perombakan besar-besaran. Fokus utama manajemen kini adalah membangun kembali standar dan identitas Leicester City demi mengembalikan kejayaan yang kini hanya menjadi kenangan pahit di mata pendukungnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#leicester city