MANCHESTER – Pengunduran diri Pep Guardiola dari kursi kepelatihan Manchester City pada musim panas 2026 menandai berakhirnya salah satu era paling emas dalam sejarah sepak bola modern. Setelah satu dekade bergelimang trofi dan mendominasi kompetisi domestik maupun Eropa, juru taktik asal Spanyol itu akhirnya resmi menyudahi masa jabatannya di Stadion Etihad.
Namun, sebuah fakta mengejutkan baru saja diungkapkan oleh petinggi klub. Bos besar Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, membeberkan bahwa keputusan Pep untuk pergi sebenarnya bukanlah hal baru bagi internal manajemen, melainkan sebuah keinginan lama yang sudah berulang kali ia utarakan di balik layar.
Khaldoon secara blak-blakan mengungkapkan bahwa melatih klub sebesar Manchester City dengan tuntutan menang yang tiada habisnya telah menguras energi emosional dan fisik Pep secara masif. Di balik senyum kemenangan dan angkatan piala, pelatih berusia 55 tahun itu kerap kali mengalami fase kelelahan mental yang sangat hebat.
"Selama 10 tahun terakhir, dia mungkin sudah mengundurkan diri 100 kali," ungkap Khaldoon kepada ESPN.
Menurut manajemen, Pep bahkan sama sekali tidak pernah membayangkan akan bertahan hingga sepuluh tahun semenjak kedatangannya dari Barcelona pada 2016 lalu. Sejak memasuki tahun keempat dan kelima, Pep sudah mulai mempertanyakan kapasitas dan motivasinya untuk terus melanjutkan proyek jangka panjang klub. Bedanya, jika pada tahun-tahun sebelumnya manajemen selalu berhasil merayu dan meyakinkan sang manajer untuk bertahan, kali ini keputusan Pep dinilai sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
Khaldoon menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat menghalangi atau melawan keputusan Pep musim ini. Manajemen menyadari bahwa rasa lelah yang dirasakan Pep kali ini sudah mencapai puncaknya, dan keputusan mundur tersebut diambil dengan tingkat keseriusan yang berbeda dibanding sebelum-sebelumnya.
Langkah ini sekaligus mematahkan berbagai spekulasi miring di luar sana; perpisahan antara Pep dan Manchester City dipastikan berjalan dengan sangat damai tanpa ada bumbu konflik internal dengan manajemen. Bagi para pendukung setia The Citizens, kepergian ini tentu meninggalkan lubang besar, mengingat Pep adalah sosok utama yang berhasil merevolusi klub menjadi kekuatan menakutkan di dunia.
Kehilangan sang maestro tak lantas membuat aktivitas di manajemen Manchester City lumpuh. Manajemen kini fokus penuh pada proses transisi kepemimpinan agar stabilitas tim tetap terjaga. Mantan bos Chelsea, Enzo Maresca, kini mencuat sebagai kandidat terkuat untuk menjadi suksesor Pep. Pria asal Italia berusia 46 tahun tersebut dinilai menjadi sosok paling ideal karena sudah sangat familier dengan lingkungan Etihad berkat pengalamannya bekerja di sana sebelumnya.
Khaldoon meminta para suporter untuk sedikit bersabar menanti pengumuman resmi, karena klub saat ini sedang merampungkan detail dokumen administrasi serta negosiasi kompensasi secara matang dan terstruktur. Di samping berburu nakhoda baru, manajemen City juga menegaskan ambisi mereka untuk tetap menjadi penantang gelar utama musim depan dengan langsung tancap gas di bursa transfer musim panas. Fondasi permainan yang ditinggalkan Pep Guardiola dinilai sudah sangat kokoh, sehingga tugas pelatih baru nantinya adalah memastikan transisi berjalan mulus tanpa menghilangkan identitas permainan menyerang khas Manchester City. (*)
Editor : Indra Zakaria