PROKAL.CO- Monterrey Stadium di Meksiko bersiap menjadi saksi bisu dari sebuah malam penuh magis saat menampung bentrokan bersejarah antara Tunisia dan Jepang. Laga ini tidak hanya krusial bagi peta persaingan Grup F Piala Dunia 2026, tetapi juga akan abadi sebagai pertandingan ke-1000 dalam sejarah panjang sepak bola sejagat. Jepang menapakkan kaki di lapangan dengan kepercayaan diri yang sedang membubung tinggi, siap memancarkan tajamnya sinar "Cahaya Asia" setelah sukses memetik hasil impresif dengan menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dua sama di laga pembuka. Situasi ini 180 derajat berbanding terbalik dengan kondisi Tunisia yang compang-camping pasca-dihajar Swedia satu lima, sebuah kekalahan memalukan yang berujung pada pemecatan kilat pelatih Sabri Lamouchi.
Guna menyelamatkan wajah tim di sisa turnamen, federasi sepak bola Tunisia bergerak cepat dengan menunjuk ahli taktik asal Prancis, Herve Renard, untuk menakhodai armada Elang Kartago. Renard bukanlah nama asing di panggung tertinggi; ia adalah arsitek jenius di balik runtuhnya keperkasaan Argentina oleh Arab Saudi pada edisi 2022 lalu. Ekspektasi publik kini bertumpu pada magis instan sang pelatih anyar untuk membenahi lini pertahanan Tunisia yang sudah kebobolan sebelas gol hanya dari tiga laga terakhir. Renard diprediksi akan merombak formasi dengan memasang empat bek sejajar, mengandalkan duet Omar Rekik dan Montassar Talbi di jantung pertahanan demi meredam agresivitas serangan lawan, sekaligus memutar otak untuk menajamkan lini depan mereka yang tumpul.
Di kubu seberang, ketangguhan kolektivitas tim nasional Jepang asuhan Hajime Moriyasu akan benar-benar diuji menyusul kabar buruk yang menimpa bintang mereka, Takefusa Kubo. Gelandang kreatif tersebut dipastikan absen setelah mengalami cedera lutut parah yang memaksanya meninggalkan stadion dengan kursi roda saat laga kontra Belanda. Kendati kehilangan jenderal lapangan tengah mereka, kedalaman skuad Samurai Biru yang merata membuat mereka tidak kehabisan akal. Ritsu Doan diyakini akan mengambil alih tongkat estafet kreativitas serangan, berkolaborasi dengan kecepatan Daizen Maeda serta ketajaman Ayase Ueda untuk mengobrak-abrik taktik baru yang diusung oleh lini belakang Tunisia.
Menilik rekor pertemuan kedua negara, dominasi mutlak masih dipegang oleh sang wakil Asia. Dari lima bentrokan terakhir, Jepang sukses mengamankan empat kemenangan dominan, termasuk kemenangan dua nol pada Oktober 2023 silam, dan hanya sekali menelan kekalahan dari Tunisia. Stabilitas performa dan disiplin organisasi permainan yang menjadi identitas utama Samurai Biru membuat mereka jauh lebih diunggulkan ketimbang Tunisia yang masih meraba-raba skema permainan di bawah nakhoda baru. Dengan momentum emas yang tengah digenggam, Jepang berambisi besar memanfaatkan laga milenium Piala Dunia ini untuk memetik tiga poin penuh, sekaligus menancapkan dominasi sepak bola Asia di mata dunia. (*)
Editor : Indra Zakaria