BOSTON – Langkah Timnas Jerman untuk melaju lebih jauh di panggung Piala Dunia 2026 dinilai banyak pihak bakal berjalan mulus. Skuad asuhan Julian Nagelsmann ini "hanya" akan ditantang oleh Paraguay pada laga babak gugur yang akan tersaji di Boston Stadium, Selasa (30/6/2026) dini hari nanti pukul 04.30 Wita.
Kendati diunggulkan, laga ini diprediksi akan menjadi panggung benturan dua filosofi sepak bola yang bertolak belakang. Jerman datang dengan modal produktivitas gol yang menakutkan, sementara Paraguay mengandalkan kedisiplinan lini belakang yang super rapat untuk meredam agresivitas lawannya. Sejak menit awal, Jerman diperkirakan langsung mengambil inisiatif mendominasi penguasaan bola, sedangkan Paraguay akan lebih sabar menunggu momentum melakukan serangan balik kilat.
Der Panzer sendiri mengunci tiket lolos setelah keluar sebagai juara Grup E dengan performa menyerang yang menjanjikan. Mereka sempat mengamuk dengan melumat Curacao 7-1, menundukkan Pantai Gading 2-1, sebelum akhirnya terpeleset lewat kekalahan tipis 1-2 dari Ekuador di laga pamungkas grup. Meskipun menelan kekalahan di akhir fase grup, secara keseluruhan performa Jamal Musiala dan kawan-kawan tetap dinilai sangat mengesankan.
Baca Juga: Brasil Kontra Jepang di Babak Gugur Piala Dunia 2026: Adu Magis Ancelotti vs Disiplin Moriyasu
Namun, Julian Nagelsmann enggan anak asuhnya merasa jemawa. Mantan pelatih Bayern Munchen tersebut mengingatkan bahwa di fase gugur seperti ini, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Menurutnya, anggapan publik bahwa Paraguay adalah lawan yang mudah dikalahkan merupakan pandangan yang keliru besar. Kelolosan Paraguay ke babak ini menjadi bukti sahih bahwa mereka memiliki kualitas yang patut diwaspadai.
Nagelsmann sendiri memiliki kemewahan di lini serang dengan deretan pemain kreatif seperti Florian Wirtz, Jamal Musiala, Leroy Sane, hingga Kai Havertz. Variasi serangan Jerman juga sangat kaya; mereka tidak sekadar mengandalkan permainan bola-bola pendek, melainkan sangat efektif dalam memanfaatkan pergerakan tanpa bola serta transisi cepat yang sulit diantisipasi lawan.
Di sisi seberang, Paraguay di bawah komando Gustavo Alfaro memang bukanlah tim yang gemar mendominasi permainan. Sepanjang fase grup, mereka tercatat hanya membukukan rata-rata penguasaan bola sebesar 34,5 persen. Namun, angka statistik tersebut justru menegaskan identitas permainan mereka yang pragmatis namun efektif.
Lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, Paraguay sempat terseok-seok usai dihajar Amerika Serikat 1-4 di laga perdana. Skuad berjuluk Los Guaranies ini kemudian bangkit secara spartan dengan menumbangkan Turki 1-0 dan menahan imbang Australia tanpa gol.
Gustavo Alfaro mengakui bahwa perjalanan timnya untuk menembus fase gugur sangatlah terjal, dan kini mereka harus langsung berhadapan dengan salah satu raksasa dunia. Meski menyadari posisi timnya sebagai underdog, Alfaro menegaskan bahwa Paraguay siap memberikan perlawanan maksimal dan melihat sejauh mana pertahanan rapat mereka mampu meredam daya ledak sang raksasa Eropa. (*)
Editor : Indra Zakaria