SEATTLE — Kampanye Piala Dunia Amerika Serikat yang awalnya dipenuhi gegap gempita, ekspektasi tinggi, dan momentum masif di dalam maupun luar lapangan, harus terhenti secara tragis dan menyakitkan pada Senin waktu setempat. Memiliki kesempatan emas untuk melangkah ke babak perempat final untuk pertama kalinya dalam 24 tahun—sekaligus membakar semangat publik paman Sam yang tengah keranjingan sepak bola—Timnas AS justru tampil rapuh. Mereka kehilangan fokus, bertahan secara naif, dan melakukan rentetan kesalahan fatal yang dihukum dengan efisiensi mematikan oleh Belgia.
Kekalahan telak 1-4 di Stadion Lumen Field yang padat penonton ini menghadirkan dejavu pahit saat mereka disingkirkan Belanda di babak 16 besar empat tahun lalu di Qatar. Jelas terlihat, jurang kualitas antara tim elite Eropa—bahkan skuad Belgia yang dinilai sudah melewati masa jayanya—dengan Amerika Serikat masih terlampau besar.
Anak asuh Mauricio Pochettino sudah berada dalam tekanan sejak menit pertama. Belgia membuka keunggulan lebih dulu pada menit ke-9 melalui sontekan Charles De Ketelaere, memanfaatkan kelengahan koordinasi lini belakang AS yang gagal mengantisipasi umpan silang Nicolas Raskin. Stadion Lumen Field yang terkenal dengan gemuruh suaranya seketika hening.
Asa sempat membubung tinggi bagi tuan rumah pada menit ke-30. Berawal dari pelanggaran terhadap Folarin Balogun, Malik Tillman kembali menjadi pahlawan lewat eksekusi tendangan bebasnya. Bola sepakan Tillman membentur kepala Hans Vanaken yang menjadi pagar betis, mengecoh penjaga gawang Real Madrid, Thibaut Courtois, dan bersarang ke pojok gawang. Skor imbang 1-1.
Namun, kegembiraan publik Seattle hanya bertahan dua menit. Leandro Trossard berhasil menusuk ke garis belakang dan melepaskan umpan silang akurat ke kotak penalti. Charles De Ketelaere memenangkan duel udara melawan kapten AS, Tim Ream, untuk mencetak gol keduanya lewat sundulan kepala. Melihat lini pertahanannya kembali rapuh dalam sekejap, pelatih Mauricio Pochettino mengamuk di pinggir lapangan dan menendang keranjang botol air minum karena frustrasi.
Petaka Babak Kedua: Cedera Pulisic dan Blunder Fatal
Pochettino mencoba melakukan perubahan di babak kedua dengan memasukkan Gio Reyna dan menarik keluar Sergiño Dest. Namun, alih-alih menyamakan kedudukan, malapetaka justru menghampiri AS. Kiper Matt Freese melakukan kesalahan fatal saat keluar dari sarangnya untuk menghalau bola spekulasi. Di bawah tekanan De Ketelaere, kontrol bola Freese tidak sempurna. Bola liar langsung disambar oleh Hans Vanaken lewat tendangan jarak jauh dari jarak 35 yard yang gagal dihalau Tim Ream yang sudah mati langkah. Skor berubah menjadi 3-1.
Penderitaan AS kian lengkap ketika sang ikon tim, Christian Pulisic, terpaksa ditarik keluar lapangan karena mengalami cedera kaki kanan setelah salah melakukan benturan saat melepaskan tembakan. Tanpa Pulisic dan dalam kondisi tertinggal, AS semakin frustrasi meski telah memasukkan Ricardo Pepi.
Di masa injury time, pemain pengganti Romelu Lukaku menggenapkan penderitaan tuan rumah menjadi 1-4 setelah memanfaatkan kesalahan giveaway Chris Richards di area terlarang.
Dengan hasil ini, Belgia berhak melaju ke babak perempat final untuk menantang Spanyol di Los Angeles pada hari Jumat mendatang.
Bagi Amerika Serikat, meski hari ini terasa sangat melempar mental, mereka tetap mengemas pencapaian berharga di Piala Dunia 2026 ini—termasuk kelolosan cepat dari fase grup hanya dalam dua pertandingan dan memenangkan laga fase gugur pertama mereka sejak 2002. Namun, mereka harus meratapi performa antiklimaks ini justru di saat lampu sorot dunia sedang menyala paling terang. (*)
Editor : Indra Zakaria