ATLANTA – Keberhasilan Timnas Argentina menembus babak final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Inggris dua gol banding satu menyisakan buntut panjang yang kontroversial. Alih-alih murni merayakan kemenangan dramatis di lapangan, para penggawa La Albiceleste justru terseret ke dalam isu geopolitik sensitif dengan membentangkan spanduk bertuliskan slogan klaim wilayah atas Kepulauan Falkland. Tindakan nekat pascatanding tersebut kini dilaporkan berpotensi memicu kemarahan badan sepak bola tertinggi dunia, FIFA, serta dibayangi ancaman sanksi serius yang bisa mengganggu konsentrasi mereka menjelang laga puncak kontra Spanyol.
Rivalitas antara Argentina dan Inggris memang memiliki akar sejarah kelam di luar lapangan hijau yang bersumber dari Perang Falkland pada tahun 1982 silam. Konflik bersenjata selama 74 hari demi memperebutkan pulau di lepas pantai selatan Argentina itu sempat menelan ratusan korban jiwa dari kedua belah pihak. Sebelum laga semifinal dimulai di Stadion Mercedes-Benz Atlanta, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, sebenarnya sudah berusaha meredam ketegangan dengan menegaskan bahwa mencampuradukkan politik dan sepak bola adalah sebuah kegilaan. Namun, begitu peluit panjang berbunyi dan tiket final berhasil diamankan, situasi justru berbalik seratus delapan puluh derajat.
Euforia kemenangan yang tak terbendung membuat sejumlah pemain bintang Argentina, dipimpin oleh gelandang Giovani Lo Celso dan bek senior Nicolás Otamendi, mengambil alih sebuah spanduk besar milik suporter yang bertuliskan kalimat penegasan wilayah dalam bahasa Spanyol. Hampir seluruh anggota tim kemudian ikut berkumpul di depan tribun penonton dan berjoget bersama sambil membentangkan spanduk tersebut. Aksi perayaan massal ini langsung memicu sorotan tajam karena hukum internasional sepak bola secara ketat melarang adanya atribusi atau pesan bermuatan politis di dalam area stadion.
Merujuk pada kode etik stadion milik FIFA serta buku panduan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), segala bentuk perlengkapan, pakaian, maupun spanduk yang menampilkan slogan politik, keagamaan, atau pesan diskriminatif terhadap suatu negara sangat diharamkan. Setiap pelanggaran terhadap aturan ini dipastikan akan menyeret pemain maupun asosiasi sepak bola negara bersangkutan ke dalam sidang komisi disiplin dengan konsekuensi sanksi yang cukup nyata.
Hingga saat ini, pihak FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait jenis hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada kubu Argentina. Meski beberapa pihak menilai sanksi larangan bertanding di laga final merupakan langkah yang terlalu ekstrem, opsi denda finansial yang besar menjadi skenario yang paling masuk akal untuk terjadi. Kasus serupa sebenarnya pernah menimpa Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) pada tahun 2014 silam ketika mereka dijatuhi denda puluhan ribu poundsterling akibat aksi serupa, dan kini memori kelam tersebut kembali membayangi persiapan matang mereka untuk mempertahankan takhta juara dunia di New Jersey. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co