
NEW YORK — Aroma persaingan menuju takhta tertinggi sepak bola dunia semakin menyengat di New York. Laga akbar yang mempertemukan Timnas Spanyol dan Argentina diprediksi akan berlangsung sengit. Meskipun gelombang prediksi lebih menjagokan La Furia Roja untuk keluar sebagai juara, bayang-bayang mentalitas juara sang lawan tetap tidak bisa ditepis begitu saja.
Salah satu peringatan keras ini datang dari presenter sekaligus komentator olahraga ternama asal Spanyol, David Sanchez. Lewat program La Tribu, Sanchez mengingatkan bahwa status favorit yang disandang Spanyol saat ini bisa menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan tinggi. Baginya, Argentina yang berstatus sebagai juara bertahan memiliki kepingan taktik yang sangat berbahaya.
Menariknya, Sanchez justru menilai riak-riak kecemasan yang mulai muncul di kubu pendukung Spanyol sebagai sinyal yang bagus. Menghadapi tim yang dipimpin oleh sosok genius seperti Lionel Messi, sedikit rasa takut dinilai perlu untuk menjaga fokus para pemain di atas lapangan agar tidak terbuai oleh pujian.
"Saya melihat ada sedikit rasa takut di kalangan pendukung timnas Spanyol menjelang final. Menurut saya itu hal yang baik karena Argentina adalah tim yang pantas dihormati," ujar Sanchez.
Kehadiran Messi di partai puncak memang kembali menjadi magnet sekaligus ancaman nyata. Meski usianya sudah senja untuk ukuran pesepak bola modern, magis sang kapten Albiceleste dinilai tetap sanggup mengubah arah pertandingan dalam sekejap mata.
Di sisi lain, Sanchez sebenarnya tidak memungkiri bahwa secara kualitas permainan, anak asuh Luis de la Fuente tampil jauh lebih konsisten sepanjang turnamen. Keunggulan Spanyol dalam organisasi permainan dan penguasaan bola bahkan membuat sang komentator tidak mengubah prediksinya sejak awal.
"Menurut saya, Spanyol adalah tim yang lebih baik dibanding Argentina. Cara bermain mereka juga lebih meyakinkan sepanjang turnamen," katanya menambahkan.
Namun, final bukan hanya soal statistik di atas kertas. Di bawah komando Lionel Scaloni, Argentina dikenal sebagai tim yang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Mereka bisa bermain menyerang dengan agresif, namun di waktu yang sama juga sangat lihai dalam mengatur tempo permainan, memprovokasi emosi lawan, hingga mengintip celah sekecil apa pun untuk mengunci kemenangan.
Kematangan taktik seperti inilah yang sering kali menjadi pembeda dalam laga-laga krusial. Sanchez pun meminta Spanyol belajar dari kegagalan Prancis yang terlalu percaya diri setelah mendapat banyak sanjungan, hingga akhirnya tampil antiklimaks. Baginya, rasa hormat terhadap kekuatan lawan adalah kunci utama untuk mempertahankan performa terbaik.
"Memiliki sedikit rasa takut kepada juara bertahan justru baik. Itu membuat tim tetap fokus sepanjang pertandingan," ucap Sanchez menegaskan.
Pada akhirnya, Sanchez tetap menjagokan negaranya untuk mengangkat trofi emas Piala Dunia 2026 jika pola permainan Spanyol berjalan sesuai rencana. Kedalaman skuad yang merata di setiap lini dinilai sudah lebih dari cukup untuk membawa pulang gelar juara.
Meski begitu, sebuah kalimat penutup darinya langsung menjadi sorotan hangat di kalangan pecinta bola, sebuah pernyataan yang merangkum betapa tingginya rasa hormat Spanyol terhadap sang rival. "Bagi saya Spanyol tetap favorit. Tetapi saya sama sekali tidak pernah percaya pada Messi dan Argentina," pungkas Sanchez. (*)
Sumber : prokal.co