NEW YORK — Partai puncak Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan duel sengit perebutan trofi berlambang emas, tetapi juga menghadirkan drama emosional yang sarat nostalgia. Laga raksasa yang mempertemukan Spanyol dan Argentina ini ternyata menjadi panggung reuni bagi sang guru, Luis de la Fuente, dan sang murid, Lionel Scaloni.
Sebelum menapakkan kaki di New York, kedua tim harus melewati jalan terjal yang menguras keringat. Spanyol sukses melangkah ke final setelah menyingkirkan Prancis dengan kemenangan meyakinkan 2-0. Sementara itu, sang juara bertahan Argentina harus memeras keringat lebih dalam sebelum akhirnya berhasil menundukkan Inggris dengan skor tipis 2-1.
Laga ini menjadi sangat krusial bagi sejarah sepak bola kedua negara. La Furia Roja tengah membidik gelar Piala Dunia kedua mereka setelah penantian panjang sejak tahun 2010. Di kubu seberang, Albiceleste mengincar torehan tinta emas untuk mempertahankan gelar juara dunia secara berturut-turut, sebuah rekor langka yang terakhir kali diukir oleh Brasil pada tahun 1962 silam.
Namun di luar urusan taktik dan trofi, takdir mempertemukan kembali dua juru taktik ini dalam hubungan emosional yang terjalin sejak sembilan tahun lalu. Pada tahun 2017, De la Fuente adalah seorang guru kursus kepelatihan di akademi Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) di Las Rozas, Madrid. Di ruang kelas itulah, Lionel Scaloni duduk sebagai salah satu muridnya.
Ikatan batin yang kuat membuat De la Fuente bahkan sempat mengutarakan impiannya untuk bersua Argentina di final sesaat setelah membungkam Prancis. Scaloni sendiri sama sekali tidak menampik peran besar sang mentor dalam peletakan batu pertama karier kepelatihannya.
"Luis sangat membantu kami yang mengikuti kursus kepelatihan di Las Rozas. Saya sempat berbincang dengannya dan saya mendoakan yang terbaik untuknya," ujar Scaloni.
Menjelang laga hidup mati ini, Scaloni mengaku ikut bangga dengan pencapaian gurunya. Kedekatan Scaloni dengan Spanyol pun sejatinya sangat mendalam, mengingat istrinya berasal dari sana, anak-anaknya lahir di Negeri Matador, dan ia sempat lama merumput bersama klub-klub Spanyol seperti Deportivo La Coruna, Racing Santander, hingga Mallorca.
"Saya senang untuknya. Dia pantas mendapatkannya. Dia orang yang hebat. Apa yang kami lihat dari timnya adalah sesuatu yang ingin kami miliki juga. Jika kami bertemu di final, tidak akan ada telepon sampai setelah pertandingan," canda Scaloni sembari melempar sinyal perang urat syaraf yang sehat.
Di sisi lain, De la Fuente mengaku tidak pernah membayangkan bahwa salah satu siswa di kelasnya dahulu kini akan menjadi rival beratnya di laga paling prestisius di bumi. Baginya, Scaloni sejak awal memang bukan murid biasa melainkan sosok yang selalu menonjol. "Siapa yang menyangka saat itu? Hidup ini luar biasa. Jika kami saat ini menjadi juara dunia dan Eropa, itu karena kerja keras, kerja keras, dan kerja keras," kenang De la Fuente.
Sang mentor mengingat betul bagaimana antusiasme Scaloni muda saat menyerap ilmu kepelatihan. Karakter haus ilmu itulah yang dinilainya menjadi modal besar Scaloni hingga bisa sesukses sekarang.
"Seperti di semua kelas di seluruh dunia, selalu ada siswa yang berbeda dan dia salah satunya. Ada kegelisahan, pertanyaan, rasa ingin tahu, serta kecerdasan yang luar biasa. Scaloni selalu duduk di baris paling depan, layaknya siswa terbaik di kelas," ungkap De la Fuente.
Lebih lanjut, De la Fuente melihat tanda-tanda bakat kepelatihan Scaloni sudah terpancar sejak dini, terutama dari caranya memandang permainan yang visioner. "Dia memaparkan visinya tentang sepak bola kepada saya, visi yang berbeda dari milik saya. Atau setidaknya berbeda dari pandangan saya kala itu. Dia memberi kesan seolah-olah dia memang sudah lama menanti kesempatan untuk menjadi pelatih," tambahnya.
Meski sembilan puluh menit di lapangan nanti akan menjadi pertempuran taktik yang kejam, De la Fuente menegaskan bahwa persahabatan dan respek di antara mereka tidak akan pernah luntur oleh hasil pertandingan. "Kesuksesan dalam olahraga itu sifatnya sementara, yang terpenting ialah hubungan dan ikatan dengan sesama. Kami memiliki nilai-nilai yang sama dan saya merasa memiliki kesamaan dengannya," pungkas De la Fuente. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co