Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Aksi Sujud Syukur Wasit Ismail Elfath di Semifinal Piala Dunia 2026 Tuai Salah Paham

Redaksi Prokal • Sabtu, 18 Juli 2026 | 10:46 WIB
 Reaksi sujud wasit Ismail Elfath setelah memimpin pertandingan semifinal. Banyak opini muncul atas apa yang dilakukan Ismail.
Reaksi sujud wasit Ismail Elfath setelah memimpin pertandingan semifinal. Banyak opini muncul atas apa yang dilakukan Ismail.

ATLANTA — Sebuah momen unik sekaligus kontroversial tersaji sesaat setelah peluit panjang berbunyi dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Inggris. Di tengah gemuruh euforia skuad Albiceleste dan runtuhnya mental para pemain Inggris, sorotan kamera justru tertuju pada sang pengadil lapangan, Ismail Elfath.

Wasit asal Amerika Serikat berdarah Maroko itu tertangkap kamera langsung melakukan aksi sujud di atas rumput stadion begitu pertandingan berakhir. Tak butuh waktu lama, aksi spontan tersebut langsung meledak dan menjadi perbincangan panas di jagat media sosial.

Sengketa pemaknaan pun pecah. Sebagian netizen Barat yang tidak familier dengan gestur tersebut menuduh Ismail sedang merayakan kemenangan Argentina atas Inggris. Gelombang kecurigaan bahkan menggelinding liar, dengan munculnya tudingan bahwa sang wasit telah berpihak dan tidak objektif selama memimpin laga.

Tidak sedikit dari warganet yang mendesak FIFA untuk segera turun tangan melakukan penyelidikan, karena menganggap tindakan tersebut tidak etis dan menodai netralitas seorang wasit di turnamen sebesar Piala Dunia.

Padahal, spekulasi liar itu lahir murni dari ketidakpahaman publik global terhadap tradisi religius. Bagi umat Islam, gerakan yang dilakukan Ismail adalah sujud syukur—sebuah bentuk ekspresi rasa terima kasih yang mendalam kepada Tuhan atas keselamatan, kelancaran, dan keberhasilan yang telah diraih.

Beruntung, banyak pencinta sepak bola dunia yang paham langsung pasang badan di media sosial untuk meluruskan salah paham tersebut. Mereka menegaskan bahwa Ismail sama sekali tidak sedang memihak Argentina, melainkan bersyukur karena telah berhasil menyelesaikan salah satu tugas terberat dan terbesar dalam karier profesionalnya sebagai wasit.

Sepanjang 90 menit laga tensi tinggi itu bergulir, performa Ismail Elfath sebenarnya terhitung jempolan. Ia dinilai mampu mengontrol jalannya pertandingan dengan sangat baik, tegas, dan keputusan-keputusannya mengalir lancar tanpa memicu kontroversi besar di atas lapangan.

Bagi Ismail, diberi amanah memimpin laga sekrusial semifinal Piala Dunia adalah pencapaian luar biasa yang wajib disyukuri, dan sujud adalah cara personalnya untuk mengetuk pintu langit.

Peristiwa ini menjadi cermin nyata bagaimana perbedaan latar belakang budaya dan agama masih sering kali memicu salah tafsir di ruang publik digital. Sebuah tindakan yang sarat nilai spiritual personal, bisa bergeser makna menjadi narasi konspirasi politik lapangan hijau jika dinilai dari sudut pandang yang keliru. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
piala dunia 2026