BUENOS AIRES — Euforia besar sedang melanda Buenos Aires. Puluhan ribu pendukung tumpah ruah ke jalanan ibu kota untuk merayakan keberhasilan tim nasional Argentina menembus babak final Piala Dunia 2026 usai menumbangkan Inggris di semifinal. La Albiceleste kini hanya tinggal selangkah lagi untuk mencetak sejarah dengan meraih gelar juara dunia kedua secara beruntun saat menantang Spanyol pada Senin dini hari WIB.
Namun, pesta pora di Argentina berbanding terbalik dengan gejolak di jagat maya. Gelombang kritik tajam menyeruak di media sosial, menuduh kemenangan Argentina sarat dengan kontroversi dan keberpihakan wasit. Tidak tinggal diam, sang kapten Lionel Messi langsung pasang badan dan melempar jawaban menohok untuk membungkam para pengkritik.
Messi menegaskan bahwa keberhasilan negaranya melangkah ke partai puncak murni karena kualitas dan mentalitas juara yang mereka miliki, bukan karena belas kasihan pihak lain atau favoritisme dari FIFA. Menurutnya, Argentina adalah yang terbaik dalam empat tahun terakhir, suka atau tidak. Keberhasilan kembali membuktikan diri sebagai salah satu dari dua tim terbaik di dunia menunjukkan bahwa semua yang dicapai bukan kebetulan dan tidak ada yang diberikan secara cuma-cuma.
Perjalanan Argentina menuju final memang diwarnai oleh drama comeback yang menguras emosi sekaligus memicu protes keras dari tim lawan. Selain mengalahkan Inggris, Argentina harus melalui perpanjangan waktu yang melelahkan saat menghadapi Tanjung Verde dan Swiss. La Albiceleste bahkan sempat bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menang dramatis tiga-dua atas Mesir hanya dalam sebelas menit terakhir waktu normal.
Rentetan hasil tersebut memicu sorotan tajam terhadap keputusan pengadil lapangan. Pelatih Swiss, Murat Yakin, mengkritik keras kartu merah kontroversial Breel Embolo yang dinilai jatuh sendiri sebelum kontak dengan Leandro Paredes. Yakin merasa timnya dihukum oleh aturan yang tidak bisa diterima dan menegaskan anak asuhnya adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kritik serupa datang dari pelatih Mesir, Hossam Hassan, yang secara terbuka menduga adanya keberpihakan terhadap Argentina dan Messi, hingga memicu Federasi Sepak Bola Mesir untuk menyatakan tidak bisa tinggal diam.
Panasnya tensi kritik ini juga direspons langsung oleh para penggawa Argentina. Gelandang Enzo Fernandez sempat melakukan gestur mengejek saat merayakan golnya di semifinal sebagai bentuk serangan balik kepada para pengkritik. Aksi ini sempat memicu kegaduhan setelah klubnya, Chelsea, mengunggah foto selebrasi tersebut sebelum akhirnya dihapus karena diserbu protes fans Inggris. Enzo sendiri menganggap keriuhan di luar sana sebagai campuran antara euforia dan frustrasi.
Di sisi lain, pelatih Argentina, Lionel Scaloni, meminta anak asuhnya dan masyarakat untuk menutup telinga dari opini liar di media sosial. Menurutnya, tuduhan bahwa Argentina rutin mendapat bantuan dari pengadil lapangan adalah hal yang absurd di era sepak bola modern. Scaloni menegaskan bahwa dengan adanya teknologi VAR, sangat sulit bagi sebuah tim untuk mendapatkan bantuan khusus kecuali jika kesalahannya benar-benar jelas, dan ia memastikan timnya melaju murni karena kerja keras.
Kini, di tengah kepungan isu miring dan tudingan anak emas, skuad Argentina memilih fokus penuh untuk membuktikan kelayakan mereka di lapangan hijau saat menghadapi Spanyol dalam perebutan takhta tertinggi sepak bola bumi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co