PARIS — Luka akibat kekalahan menyakitkan dari Spanyol di babak semifinal Piala Dunia 2026 tampaknya masih membekas mendalam bagi publik Prancis. Hingga kini, gelombang protes massal terus bergulir di Negeri Anggur, yang puncaknya ditandai dengan kemunculan petisi daring yang menuntut agar pertandingan semifinal tersebut diulang secara total.
Tidak main-main, petisi yang menggalang dukungan luas tersebut dilaporkan telah berhasil menembus lebih dari 50 ribu tanda tangan dalam waktu singkat. Suporter timnas Prancis menilai kemenangan dua gol tanpa balas yang diraih La Roja cacat hukum karena diwarnai oleh kelalaian fatal dari pengadil lapangan dalam menegakkan aturan.
Titik mati yang menjadi pemicu kemarahan publik Prancis berakar dari proses terjadinya gol pertama Spanyol pada menit ke-22. Dalam petisinya, mereka mengklaim bahwa sebelum bek kiri Prancis, Lucas Digne, melakukan sapuan yang menjatuhkan wide attacker Spanyol, Lamine Yamal, bola telah lebih dulu menyentuh tangan bintang muda asal FC Barcelona tersebut.
Para pendukung Les Bleus berargumen bahwa jika pelanggaran handball Yamal tersebut dianulir sejak awal, maka hadiah penalti yang berhasil dieksekusi oleh false nine Spanyol, Mikel Oyarzabal, otomatis menjadi tidak sah. Melalui petisi tersebut, mereka menyuarakan protes keras bahwa olahraga harus dijalankan sesuai dengan aturan, namun aturan tersebut justru sama sekali tidak ditegakkan dalam pertandingan krusial ini.
Aksi Protes Warga Prancis di Luar Lapangan
Perlawanan dari pendukung Prancis ternyata tidak hanya berhenti di atas kertas petisi digital. Kekecewaan yang mendalam ini mulai merembet ke sektor ekonomi dan perdagangan di dunia nyata. Laporan sejumlah media lokal Prancis menyebutkan bahwa warga Negara Mode kini ramai menyerukan gerakan boikot terhadap barang-barang asal Spanyol, yang dampaknya mulai terlihat dari sepinya peminat produk-produk Negeri Matador di berbagai jaringan supermarket di Prancis.
Meski aksi boikot produk dan pengumpulan puluhan ribu tanda tangan ini terus meluas, peluang FIFA untuk mengabulkan tuntutan tanding ulang dinilai hampir mustahil mengingat jadwal partai final yang sudah di depan mata. Namun, fenomena ini menjadi bukti sahih betapa panasnya tensi rivalitas kedua negara yang kini berujung pada aksi protes massal di luar lapangan hijau. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co