Skema musik hiphop Indonesia semakin ramai dengan kemunculan rapper-rapper baru. Salah satunya Tuan Tigabelas. Pria yang akrab dipanggil Upi itu memulai karirnya di lapangan basket, olahraga yang berkaitan erat dengan musik hiphop.
Suka Hiphop karena Basket
Upi, yang enggan menyebut nama lengkapnya karena dirasa kurang ’’hiphop’’, awalnya adalah pebasket. Sejak 2005, Upi beraksi di lapangan. Ayah tiga anak itu sempat bergabung di sejumlah klub. Mulai Indonesia Muda hingga beberapa klub Divisi 1 atau Divisi 2 di Jakarta.
Upi juga bermain basket jalanan alias streetball. Dia bergabung dengan grup 9PM. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu selalu mendengarkan lagu hiphop yang kerap jadi backsound pertunjukan streetball. ’’Dari situ, gue mulai suka denger dan ngulik lagu-lagunya,’’ kata Upi saat dihubungi kemarin sore (26/4).
Sejumlah musisi hiphop semakin membuatnya sadar bahwa passion-nya adalah musik, bukan basket. ’’Gue denger Korn, Ice Cube, sama Tupac Shakur,’’ ujar pria yang menekuni basket pada 2005–2012 tersebut.
Cedera pengapuran di mata kaki pada 2009 membuat Upi semakin yakin untuk beralih bidang. ’’Gue jadi nggak bisa main basket ke tahap yang terlalu serius. Soalnya, semakin lama semakin sering bengkak. Hehe...,’’ ucap pemilik label WEW Records itu.
Belajar Otodidak
Keterampilan ngerap dan menulis lagu dipelajari secara otodidak. Dulu, setelah bermain streetball dan menemukan lagu yang bagus, pria berdarah Medan-Aceh-Padang itu langsung menghafal liriknya plus latihan ngerap. ’’Awal-awal belibet, sampai bolak-balik muncrat,’’ candanya.
Berkat latihan hampir tiap hari, akhirnya urusan ngerap lancar. Karena sudah yakin akan passion di dunia musik dan keterampilan ngerap-nya, Upi dan sejumlah temannya membentuk band Rebel Education Project (REP) pada 2012. Genrenya campuran. Salah satunya hiphop dengan Upi sebagai rapper.
Upi punya segudang tulisan yang siap dijadikan lirik. Sejak masih sekolah, penggemar Eminem dan Iwa K tersebut sering menuangkan keresahan dan pikirannya menjadi lirik.
Ingin Jangkau Komunitas Hiphop
Mantap bermusik bersama rekan-rekan di REP ternyata belum memuaskan Upi. Dia ingin menjangkau komunitas hiphop yang kala itu tersegmentasi. Sebab, bandnya lebih sering tampil di acara musik yang lebih umum. ’’Akhirnya, tahun 2017, gue minta izin buat proyek solo. Pakai nama Tuan Tigabelas,’’ terangnya.
Upi pun menjelaskan filosofi namanya. ’’Tuan berarti laki-laki, 13 tanggal lahir gue. Tapi, 13 kan sering dibilang angka sial. Jadi, gue mau nunjukkin kalau sesuatu yang dianggap sial itu bisa jadi bagus,’’ paparnya. Sama seperti harapan Upi akan musik hiphop di Indonesia.
Berkat konsistensinya sebagai rapper solo selama tiga tahun, kini Upi bisa menjangkau komunitas atau pencinta hiphop di berbagai festival musik. Mulai Asian Sound Syndicate 2019 hingga festival musik lintas genre seperti Synchronize Fest dan Java Jazz. ’’Bagus lah. Artinya, musik hiphop bisa diterima audiens yang lebih luas,’’ tuturnya.
Karya yang Jujur dan Mengakar
Sejumlah single, baik solo maupun kolaborasi, serta satu album berjudul Harimau Soematra sudah dirilis. Menganggap hiphop sebagai genre musik yang membebaskan pelakunya untuk berkarya, Upi menulis sendiri lagu-lagu yang dinyanyikannya. ’’Gue bisa jadi diri sendiri dan nulis apa pun yang gue mau atau rasakan,’’ jelas pria kelahiran Jakarta, 13 Oktober 1987, itu.
Tema sosial atau seputar kehidupan sehari-hari dijadikan lirik. Misalnya, ajakan bersyukur dalam lagu Count Your Blessing, nasionalisme dalam Made in Indonesia, serta pelestarian alam dan hewan langka dalam Last Roar.
Tuan Tigabelas sangat menjaga akar budaya Indonesia. Lirik lagunya full Indonesia. Kalaupun ada lirik berbahasa Inggris, itu hanya sisipan. Upi memasukkan musik khas Indonesia seperti serunai, alat musik khas Sumatera Barat, dalam lagu Last Roar. ’’Biarpun gue rapper, gue orang Sumatera cuy. Sampai kapan pun dan ke mana pun gue pergi,’’ tegasnya.
Rajin Kolaborasi
Kolaborasi bareng musisi lain adalah salah satu investasi penting dalam berkarya. Upi pun kerap melakukannya. Dia pernah berkolaborasi dengan Saykoji, Ras Muhamad, sampai Marion Jola. ’’Nggak harus dari genre yang sama. Gue malah abis gini mau kolaborasi ama NTRL,’’ ungkap Upi.
Dia juga bekerja sama dengan lembaga nirlaba sebagai wujud aksi sosial. Upi menggandeng WWF Indonesia di album Harimau Soematra. Lagu Last Roar menggambarkan pentingnya menjaga habitat harimau. Klipnya dibuat di habitat asli harimau di Rimbang Baling, Riau. Profit penjualan album fisik dan merchandise akan digunakan untuk upaya pelestarian harimau tersebut.
Ada satu orang lagi yang ingin dia ajak berkolaborasi. ’’Gue pengin sama Kaka Slank. Kalau keturutan, wah bisa pingsan gue,’’ selorohnya. (len/c18/jan)
Editor : izak-Indra Zakaria