Setelah lima tahun, Maleficent kembali. Sang peri bertanduk itu kembali menunjukkan kebaikan lewat sifatnya yang sinis. Kali ini dia berhadapan dengan Ratu Ingrith yang ingin memusnahkan kaum peri.
SETELAH konfliknya di film pertama, Maleficent (Angelina Jolie) kembali hidup tenang di Moors, kerajaan peri yang dipimpin putri angkatnya, Aurora (Elle Fanning). Ketenangannya terganggu ketika Pangeran Phillip (Harris Dickinson) melamar Aurora untuk menikah dengannya.
Maleficent tidak setuju. Namun, Aurora bersikeras agar ibu angkatnya itu merestuinya. Dia bahkan mengajak sang peri bertemu dengan keluarga Phillip di istana kerajaan.
Makan malam keluarga yang seharusnya penuh ramah-tamah berubah kacau. Ibu Phillip, Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer), menyindir Maleficent sebagai peri jahat. Konflik pun dimulai. Hubungan ibu-anak antara Maleficent dan Aurora retak. Itulah yang dimanfaatkan Ingrith untuk melancarkan aksi balas dendamnya kepada kaum peri.
Sutradara Joachim Ronning mengungkapkan, Maleficent: Mistress of Evil menggabungkan konsep drama keluarga dengan film epik. ’’Kita bisa melihat adanya hubungan dan konflik keluarga sekaligus film kolosal dalam adegan perang dan kerajaan,’’ ujar Ronning saat diwawancara Jawa Pos via sambungan telepon beberapa waktu lalu.
Dengan mengangkat drama yang bersumber pada hubungan keluarga, Ronning dan screenwriter Linda Woolverton sukses membuat film fantasi yang cocok untuk audiens keluarga. Sesuai dengan pakem film-film Disney pada umumnya. Penonton dibuat tersentuh, terharu, dan kembali mengingat makna keluarga.
Meski film itu sangat dramatis, komedi sesekali muncul. Misalnya, saat Maleficent berupaya keras tampak ramah di hadapan orang tua Phillip. ’’Para karakter punya dialog atau tindakan yang menyenangkan atau bahkan lucu,’’ kata Peter Bradshaw, kolumnis film The Guardian. Penonton pun bisa menyaksikan film dengan lebih santai.
Jolie tetap menunjukkan performanya yang memukau. Dalam kesempatan telekonferensi, Jolie menyatakan bahwa Maleficent mewakili dualisme dalam karakter. ’’Dia perkasa sekaligus lembut, lucu, dan kuat,’’ ucap aktris 44 tahun tersebut.
Menurut Jolie, peran sebagai Maleficent yang ikonik termasuk salah satu peran yang berkesan. ’’Sangat nyambung dengan pengalaman hidupku,’’ ungkapnya.
Berkat sikapnya yang menganggap perannya itu sangat personal, Jolie cukup sukses menghayati peran. Akting mantan istri Brad Pitt tersebut sukses menyadarkan penonton tentang latar belakang Maleficent yang tidak diungkap di film pertama. ’’Bukan hanya adegan drama, Jolie juga berperan sempurna di adegan lucu,’’ tutur Caroline Siede, kolumnis film The Verge.
Aspek visual film yang merupakan gabungan set asli dengan CGI juga sangat memanjakan mata. Penonton seolah merasakan sendiri keadaan di dunia peri dan kerajaan antah-berantah. Kostumnya juga keren-keren sehingga bisa jadi inspirasi perayaan Halloween yang datang sebentar lagi.
Sayangnya, Maleficent: Mistress of Evil tidak menjanjikan kejutan atau twist yang memorable. Ceritanya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang disajikan di trailer. ’’Jalan cerita dari awal sampai akhir terlalu umum,’’ jelas Manohla Dargis, kritikus film The New York Times.
Adegan perang pun seolah menjadi pisau bermata dua untuk film tersebut. Di satu sisi, adegan perang manusia versus peri menambah kesan epik pada dongeng klasik yang ditawarkan. Namun, ujar Dargis, adegan perang masih terkesan simpang siur. Puncaknya, konflik dan peperangan yang kompleks diakhiri dengan antiklimaks lantaran ending klise layaknya dongeng putri-pangeran.
Meski begitu, film tersebut asyik ditonton. Para penggemar Disney akan mendapat lebih banyak sisi lain Maleficent dan Aurora. Juga, definisi baru cinta kasih lewat cara Maleficent berbuat baik. (len/c14/jan)
Rating
Rotten Tomatoes: 40%
IMDb: 7/10
Editor : izak-Indra Zakaria