Saat ini sederet desainer Tanah Air pun semakin berlomba-lomba memamerkan rancangannya di panggung mancanegara. Tak ketinggalan, perancang busana daerah kebanggaan Kalimantan Timur, Fanti Wahyu Nurvita, juga berhasil mengantarkan karyanya berkonsep etnik yang begitu eksis hingga panggung dunia.
DIKENAL sebagai sosok yang menjadi kiblat bagi perancang busana Kalimantan Timur (Kaltim), dialah Fanti Wahyu Nurvita yang tak hentinya mengharumkan nama Borneo hingga kelas internasional.
Seperti pertengahan tahun lalu, Fanti membawa kriya khas suku Dayak Tunjung Rentenukng di Hong Kong Fashion Week 2019. Dalam karyanya yang bertajuk Krioonkng Cosmo, Fanti membuat panggung dunia terpukau dengan kriya kriookng.
Dengan pencapaian tersebut, dijelaskan bahwa ternyata Fanti dulunya tak pernah berniat menjadi perancang busana. Bahkan, dia merupakan alumnus Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro Semarang.
BANGGA: Sukses membawa kriya khas suku Dayak Tunjung Rentenukng di Hong Kong Fashion Week (HKFW) 2019. Dengan karyanya yang bertajuk Krioonkng Cosmo. (IST)
“Saya seorang insinyur, lulus 1993. Jadi, sampai saat ini saya menganggap sedang tersesat. Namun, ketersesatan yang menyenangkan. Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat yang tiada tara,” tutur Fanti.
Kisah berawal ketika dia menyudahi kariernya dalam konsultan perencanaan yang digeluti sejak lulus kuliah. Tepatnya pada 2008 memutuskan menjadi pengusaha, membuka butik yang diberi nama Hesandra Indonesia untuk menjual kain kulakan dari seluruh Nusantara.
“Saya tegaskan lagi, niat awal hanya jadi pengusaha bukan perancang busana. Lagi dan lagi, alhamdulillahsaya mengalami ketersesatan yang menyenangkan. Saat itu saya masih jual kain, lalu ada salah satu pembeli yang meminta untuk dibuatkan batik. Merasa tertantang, akhirnya saya lakukan,” tambahnya.
DEDIKASI: Tidak hanya disibukkan dengan membuat karya, Fanti Wahyu Nurvita yang juga menjabat ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) wilayah Kalimantan Timur juga giat membantu dan membagi ilmu kepada sesama perajin seni kriya. (IST)
Berawal dari nekat dan autodidak, Fanti tak menyangka karyanya begitu diapresiasi oleh pembeli. Hingga pada 2010, merupakan tahun yang membanggakan karena untuk kali pertamanya Fanti memamerkan kain batik buatannya sendiri dalam Kaltim Fair.
Bisa dikatakan, pameran tersebut menjadi pintu gerbang sekaligus cambukan semangat untuk menghasilkan karya lebih berkualitas lagi. Terjun dalam industri kreatif dan berbau seni memang masih amat asing bagi Fanti. Namun, hal itu tak cukup kuat meluluhlantakkan semangatnya.
PAMERKAN: Hingga kini Fanti tak hanya sukses mengharumkan nama dan butiknya sendiri, tetapi juga nama Kaltim ke kelas nasional hingga internasional. Dengan karyanya yang khas mengangkat budaya Kalimantan. (IST)
“Keberatan? Alhamdulillahenggak sama sekali. Sebab, saya itu dari kecil emang suka banget sama manik-manik, pokoknya tertarik banget dengan hal yang berbau etnik. Bahkan, saya itu sudah mengoleksi banyak gelang anyam warna-warni khas dari Bali,” ucapnya.
Dari kecintaannya terhadap budaya, membuat Fanti tak sulit untuk membiasakan diri dalam industri yang belum pernah dia geluti. Dia mengakui ada karakter perfeksionis dalam dirinya, karakter itulah yang diyakini menjadi kiat sukses hingga saat ini.
“Saya bukan orang yang suka kerja setengah-setengah. Sekali sudah terjun, saya akan menyelam. Suka tidak suka, mau tidak mau, apa saja risikonya harus saya hadapi. Sekalipun saya bukan orang yang berpengalaman dalam merancang busana, saya tidak malu bertanya dan belajar dengan rekan yang sudah ahli dalam bidangnya. Jangan malu dan malas intinya,” tekan Fanti.
Bukan perkara mudah, semenjak berkarier dalam industri fesyen, Fanti mengaku belajar banyak hal. Mulai kreatifnya seorang perancang hingga semangat kewirausahaan. Meski sulit dan kerap mendapat ujian, Fanti tak pernah merasa jenuh karena cinta dan hatinya ikut serta ketika berkarya.
Hingga akhirnya Fanti tak hanya mengharumkan nama dan butiknya sendiri, tetapi juga nama baik Kaltim ke kelas nasional hingga internasional. Dengan karyanya yang khas mengangkat budaya Kalimantan.
“Beberapa tahun lalu saya berkesempatan ngobrol sama Pak Awang Faroek Ishak. Saya ngomong sama beliau, saya akan mengharumkan Kaltim dengan cara saya sendiri. Yaitu karya. Dengan karya, saya akan berjanji memamerkan kekayaan Kaltim pada dunia,” ujarnya tegas.
Janji perempuan berdarah Kutai Kartanegara dan Jawa itu bukan isapan jempol. Hingga kini, dirinya selalu ikut serta dalam pagelaran fashion show dunia dan pameran internasional. Tak hanya itu, hingga saat ini, Fanti juga tak pernah berhenti ikut serta dalam membangun perajin lokal.
“Saya sekarang menjabat sebagai ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) wilayah Kalimantan Timur. Bergerak menjadi payung bagi para pelaku dunia kerajinan. Selain berprestasi, saya juga merasa ada tanggung jawab untuk membantu dan nanti akan ada launching buku tentang kriya. Namun, masih dirahasiakan dulu ya detailnya,” ungkapnya kemudian tertawa.
Mengikuti kisah perjalanan dari awal merintis dapat menggambarkan bahwa dirinya bukan orang yang mudah terlena saat di atas awan dan tak mudah patah saat gagal. Hal itulah yang coba dirinya tularkan kepada pengusaha atau perancang busana yang baru saja merintis karier.
“Tugas saya hanya melangkah, kadang benar lebih sering salah. Gagal itu makanan sehari-hari, itu biasa, yang penting bagaimana menyikapinya. Evaluasi, bangkit. Gagal lagi? Bangkit lagi!” begitulah kilah Fanti. (*/nul/rdm2/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria