KUALITAS atau rasa adalah hal utama bagi Diana dalam mengembangkan usahanya. Oleh sebab itu, dia masih turun tangan ketika membeli bahan baku. Dulu disebutkannya pernah sistem kerjasama, namun kualitas ikannya tidak bagus.
“Jadi ikannya dicampur sama yang kurang bagus, itu kan memengaruhi ke rasa juga nantinya. Jadi saya beli sendiri. Kadang jam 2 atau 3 subuh saya ke pelelangan, sekali beli itu bisa 50 kilogram ikan cakalang,” bebernya.
Dia menyebut jika butuh waktu satu tahun untuk menemukan resep dan kualitas produk yang sesuai keinginan. Apalagi khusus bagi abon ikan. Prosesnya yang tak mudah merupakan salah satu faktor.
Sebelum 2019, proses untuk menawarkan produknya ke toko diiringi dengan penolakan. “Karena kan memang masih urus proses izin kayak halal, juga izin usaha. Terus dari segi kemasan juga kurang menarik. Jadi ditolak sama minimarketnya, tapi dikasih tahu alasannya apa, makanya berbenah lah,” ungkapnya.
Sejak tiga tahun lalu, dirinya juga mulai berpartisipasi aktif menjadi narasumber untuk pelatihan pembuatan terkait produknya. “Jadi 2019 itu ke Mahakam Ulu, pelatihan bikin abon. Di Samarinda juga mulai beberapa kali, bikin sempol, sambal juga. Saya ajarkan teknik pengolahannya,” lanjut Diana.
Terbaru, kini abon cakalang produksinya sudah ada di beberapa toko di Afrika. Semua bermula dari salah satu perusahaan perdagangan yang menawarkan kerjasama. Mengambil produk dan membungkus ulang untuk dipasarkan di Afrika.
“Tapi tetap dicantumkan siapa yang produksi. Jadi diproduksi oleh saya, didistribusikan oleh perusahaan mereka. Kemasannya juga pakai bahasa orang sana ya. Mereka memang ambil sedikit-sedikit, tapi kontinyu setiap minggu,” beber Diana.
Saat pandemi, diakui jika usahanya tak banyak berdampak. Walau tentu pesanan mitra usaha berkurang. Sehingga dia menyiasati dengan membuat paket produk. Termasuk bekerjasama dengan beberapa warung makan untuk menitipkan produknya.
“Sistemnya konsinyasi (titip), butuh modal besar dan harus berani memang. Tapi alhamdulillah, sistemnya jadi kayak tabungan. Nota saya kumpulin saja dulu, nanti baru diambil kalau sudah banyak. Saya juga enggak takut dengan kompetitor, selama ini juga customer datang terus untuk beli lagi,” jelasnya.
Perkembangan usahanya juga ditandai dengan Diana yang terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Salah satunya yakni produknya yang lolos kurasi sebagai UKM kuliner dan turut hadir di Event Pertamina Grand Prix of Indonesia, di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) Maret lalu. “Ada sekitar tiga UKM kuliner yang dari Kalimantan Timur. Mengenalkan produk lokal unggulan di sana,” tutupnya. (**)
Raden Roro Mira
@rdnrrmr
Editor : izak-Indra Zakaria