Sering Terjadi pada Perempuan, Kenali Kanker Gondok dan Pengobatannya

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Kamis, 23 Februari 2023 | 10:15 WIB
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi Kepala Leher Mayapada Hospital dr. Nina Irawati (Mayapada untuk JawaPos.com)
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi Kepala Leher Mayapada Hospital dr. Nina Irawati (Mayapada untuk JawaPos.com)

Kanker kelenjar tiroid adalah jenis kanker yang cukup umum ditemui di Indonesia. Dari data Globocan tahun 2020, tercatat 13.114 kasus baru dengan angka kematian mencapai 2.224 jiwa.

Lima terbanyak penderita kanker gondok atau tiroid di Indonesia adalah perempuan. Sementara di dunia, perempuan berderet di angka sembilan terbanyak yang mengalami penyakit tersebut.

Kanker ini terjadi saat sel-sel tiroid berkembang secara tidak normal. Namun hingga sejauh ini, kanker gondok itu sendiri menurut Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi Kepala Leher Mayapada Hospital dr. Nina Irawati, masih belum diketahui penyebab pastinya. Hanya saja, penyakit itu berisiko diturunkan secara genetik dari orang tua yang juga menderita kanker terutama bila memang ada yang pernah mengidap kanker gondok di keluarga.

“Misalnya ibu saya kanker payudara apakah mungkin saya kanker gondok? Bisa aja. Jadi yang diturunkan adalah kemudahan mendapatkan kankernya, jenis apapun,” ujarnya kepada JawaPos.com, Kamis (22/2).

Lantas, bagaimana mendeteksi bahwa diri kita terkena kanker gondok? dr Nina Irawati mengatakan bahwa gejala yang paling tampak dari penyakit ini adalah adanya benjolan di tubuh pasien, utamanya di bagian depan leher.

“Tapi juga bisa diikuti benjolan di tempat lain selain leher. Misalnya ada pasien yang mengalami benjolan di kepala atau lutut, atau bahkan ada pasien yang mendadak patah tulangnya,” jelasnya. Beberapa pasien dapat datang dalam keadaan sesak napas.

Bagaimana bisa kanker gondok membuat patah tulang? Menurut dr Nina, hal itu terjadi lantaran kanker itu memang dapat menyebar ke tulang dan hal itu seringkali tak disadari.

Efek lainnya, setelah merasakan ada benjolan di leher, ia menjelaskan bahwa selanjutnya pengidap kanker gondok bisa merasakan efek buruk lainnya. Hal itu bisa merasa sulit makan karena sulit menelan, napas tersengal-sengal, hingga suara menjadi parau.

Jika sudah merasakan efek-efek hingga seperti itu, sudah wajib memeriksakan diri. Bahkan, sejak merasa ada benjolan di leher, pengidap sudah harus langsung memeriksan diri ke rumah sakit. Hal itu untuk mencegah penyebaran tiroid itu sendri dan tingkat keparahannya.

“Jadi walaupun dia kanker tapi beda dengan kanker lain. Itu yang buat pasien tidak aware biasanya karena, ah gak sakit, ah dari dulu juga seperti ini, gitu. Jadi terapinya tergantung dari stadiumnya. Benjolan pada leher akibat kanker gondok tidak akan pernah hilang dan umumnya akan semakin membesar,” jelasnya.

Mumpung masih di stadium-stadium awal, kata dr Nina, pengidap kanker gondok dapat segera memeriksakan diri untuk ditindaklanjuti. Umumnya penderita kanker gondok harus dioperasi untuk mengangkat benjolan dan menghilangkan gejala. Di Rumah Sakit Mayapada sendiri, ia mengatakan bahwa bagi pasien kanker gondok yang masih dalam tahap stadium awal dapat memilih untuk melakukan endoskopi agar operasi tak memerlukan pembelekan di leher.

“Untuk stadium yang sangat awal, kita bisa menawarkan pasien operasi gondok tanpa luka di leher. Bisa melalui mulut, sehingga itu salah satu pilihan untuk mereka yang konsen, aduh saya gak mau ada scar (bekas luka sehabis operasi) di leher misalnya,” tandasnya.

Operasi endoskopi tiroid ini sendiri adalah pengangkatan tumor kelenjar gondok melalui mulut atau ketiak. Dengan demikian pasien setelah operasi tidak akan memiliki parut yang berbekas di leher. Operasi ini merupakan salah satu pilihan, namun dokter akan mengevaluasi karena tidak semua tumor kelenjar gondok dapat dilakukan operasi semacam ini. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria
kesehatan