Tahun 2015, jadi tahun yang tak terlupakan bagi Erika. Di tahun itu, Erika terpilih sebagai salah satu mahasiswi di Indonesia yang diberangkatkan ke Thailand. Gadis kelahiran 1997 ini jadi perwakilan Provinsi Kalsel untuk mengikuti program Asean Leadership Camp di negeri Gajah Putih tersebut.
Ada banyak pengalaman yang didapatkan selama sepekan di Thailand. Mulai dari ilmu tentang kepemimpinan, organisasi, pendidikan, hingga keberagaman budaya. Tapi, ada hal menarik lainnya yang ditemui Erika selama enam hari di negeri orang.
Di sana, alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lambung Mangkurat ini sangat sulit mencari makanan halal.
“Mayoritas di sana warganya bukan muslim. Makanya susah nyari makanan halal. Syukurnya ada mi instan. Kaya Pop Mie gitu,” ujar Erika. Menurutnya, pengalaman lain yang paling tak terlupakan adalah kesulitan membedakan gender. Ia mengaku sangat sulit mengenali warga Thailand yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
“Di sana agak susah membedakan cewek (perempuan) dan cowok (laki-laki). Bahkan ada cewek cantik, badannya bagus. Tapi, ketika dipanggil eh ternyata dia itu cowok,” kata Erika, lantas tertawa terkekeh. Menurut Erika, hal ini sudah biasa terjadi di Thailand.
Bahkan ada teman satu kelompok dengannya juga begitu. Beberapa panitia penyelenggara juga banyak yang seperti itu. “Biasanya mereka disebut sebagai Ladyboy,” katanya. Keanehan itulah yang membuat Erika penasaran. Kok bisa banyak pria yang berpenampilan dan perilaku layaknya seorang perempuan. Hingga akhirnya bertanya pada salah satu temannya yang berasal dari Thailand.
“Kata teman saya itu, mereka (masyarakat Thailand) percaya jika manusia itu bisa terlahir kembali. Biasanya di kita disebut reinkarnasi,” ujarnya. “Jadi kalau melihat ada ladyboy atau tomboy, itu artinya mereka sudah menemukan jati diri yang sebenarnya,” tambahnya.
Ketika orang tersebut memutuskan ingin menjadi apa, lanjut Erika, itu artinya mereka dianggap terlahir kembali. Hal itulah yang membuat masyarakat di sana banyak menjadi kaum LGBT.
“Orang sana menganggap ini sudah jadi hal biasa. Tapi, bagi masyarakat yang mengenal gender itu hanya dua, laki-laki dan perempuan, pasti merasa aneh. Tentunya shock melihat budaya ini,” bebernya. Meski demikian, ia meyakini bahwa ada banyak hal yang bisa diambil dari pengalaman unik selama ikut program Asean Leadership Camp di Thailand.
Acara tersebut bertujuan untuk mengasah skill kepemimpinan dari pemuda dan pemudi, serta mengenalkan budaya dari masing-masing negara Asean. Acara ini mengharuskan setiap negara Asean mengirimkan delegasi sebagai perwakilannya.
“Kebetulan saya mau ikut untuk perwakilan Indonesia. Akhirnya ikut tes dulu,” sebut Erika. Setidaknya harus punya modal bisa bahasa Inggris dan seni. Selama pelatihan di Thailand, juga ada pertukaran budaya.
Masing-masing peserta menampilkan budaya dari keseniannya masing-masing. Seperti tari dan lagu kebangsaan negara masing-masing. “Alhamdulillah lolos (ketika itu, red),” kenangnya. Selama di sana, Erika diberi training seperti bagaimana cara memimpin yang baik. Berdiskusi dengan orang-orang berbeda bahasa dan budaya. Bahkan, diajari membuat keputusan dengan pendapat tim yang berbeda-beda. “Pastinya sangat bermanfaat untuk kita pribadi dan kelompok,” tutup Erika. (*)
Nama: Erika Dwi Maryanti
Panggilan : Erika
Umur : 26 Tahun
Ttl : 26 Juli 1997
Hobi : Belajar Bahasa Asing, Nonton, Menari
Film/buku favorit : Wonder (2017)
Quote favorit : Cleverness is a gift, kindness is a choice.