Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dari Tepian Mahakam ke Panggung Nasional, Petala Borneo Bawa Tingkilan ke Album Rampak Jreng

Elmo Satria Nugraha • Minggu, 14 Juni 2026 | 21:37 WIB
 Petala Borneo, kelompok musik ethnic fusion asal Kukar (Istimewa)
 Petala Borneo, kelompok musik ethnic fusion asal Kukar (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Di tengah derasnya arus musik populer, bunyi gambus dan cengkok Tingkilan yang selama ini tumbuh di tepian Sungai Mahakam justru menemukan panggung baru. Dari Kutai Kartanegara, musik tradisi kembali menembus ruang nasional melalui karya yang lahir dari akar budaya lokal.

Petala Borneo, kelompok musik ethnic fusion asal Kukar, dipercaya menjadi satu-satunya perwakilan Kalimantan Timur dalam album kompilasi nasional Rampak Jreng, proyek musik yang disiapkan untuk memperingati satu dekade perjalanan Keroncong Plesiran di Indonesia. Album tersebut resmi diluncurkan pada Sabtu (13/6/2026) dan menghimpun sepuluh kelompok musik pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. Masing-masing membawa identitas budaya daerahnya ke dalam satu panggung musikal yang sama.

Bagi Petala Borneo, keterlibatan dalam proyek tersebut menjadi lebih dari sekadar partisipasi dalam album kompilasi. Momentum ini menjadi kesempatan memperkenalkan kekayaan budaya Kutai dan Kalimantan Timur kepada pendengar yang lebih luas melalui bahasa musik. Kelompok yang dikenal konsisten mengeksplorasi tradisi lokal itu menghadirkan karya terbaru berjudul Keroncong Tingkilan. Lagu tersebut memadukan harmoni keroncong dengan karakter khas Tingkilan yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kutai.

“Kami merasa sangat terhormat dan bangga bisa menjadi bagian dari kolaborasi besar ini. Awalnya kami dihubungi oleh pihak panitia untuk membuat sebuah karya baru yang segar. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk membawa warna khas Tingkilan ke panggung yang lebih luas,” ujar pendiri sekaligus komposer Petala Borneo, Ozi.

Melalui karya tersebut, Petala Borneo mencoba menghadirkan dialog antara dua tradisi musik yang berbeda latar. Struktur musik keroncong dipadukan dengan ketukan, warna vokal, dan nuansa Tingkilan sehingga menghasilkan komposisi yang tetap berakar pada tradisi namun terasa relevan bagi pendengar masa kini.

Langkah tersebut sejalan dengan semangat yang selama ini diusung Petala Borneo. Mereka memandang tradisi bukan sebagai warisan yang hanya disimpan sebagai kenangan, melainkan sumber kreativitas yang terus dapat diolah menjadi karya baru. Kehadiran Petala Borneo dalam Rampak Jreng juga menjadi buah dari perjalanan panjang yang mereka bangun melalui berbagai panggung budaya. Salah satu titik penting terjadi saat mereka tampil dalam Festival Keroncong di Solo pada tahun lalu.

Penampilan itu membuka jaringan yang lebih luas dengan para pegiat musik tradisi dari berbagai daerah. Dari pertemuan tersebut, lahir berbagai peluang kolaborasi yang kemudian mengantarkan mereka bergabung dalam proyek album nasional ini. Pencapaian tersebut sekaligus menjadi kabar baik bagi perkembangan seni tradisi di Kalimantan Timur. Sebab, karya yang lahir dari akar budaya lokal terbukti mampu memperoleh ruang dalam percakapan musik nasional tanpa harus meninggalkan identitasnya.

Di tengah perubahan zaman dan berkembangnya berbagai genre musik modern, Petala Borneo menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki ruang hidup yang kuat. Bahkan, ketika dikemas dengan pendekatan yang kreatif, kesenian daerah mampu menjangkau generasi baru yang sebelumnya mungkin tidak akrab dengan budaya tersebut.

Melalui Keroncong Tingkilan, mereka berharap semakin banyak anak muda Kalimantan Timur yang merasa dekat dengan warisan budayanya sendiri. Sebab, tradisi tidak selalu berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana identitas lokal terus hidup dan berkembang di masa depan.

Kini, dari platform-platform musik digital yang dapat diakses di seluruh dunia, bunyi yang lahir dari tanah Kutai kembali berlayar jauh. Membawa cerita tentang Tingkilan, tentang Mahakam, dan tentang bagaimana budaya lokal terus menemukan cara untuk bertahan di tengah zaman yang terus berubah. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#Petala Borneo