Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Di Kotawaringin Timur Tercatat Ada 1.943 Anak Stunting

Radar Sampit • 2024-05-09 16:30:00
PENANDATANGANAN: Ketua TP PKK Kotim Khairiah Halikinnor menandatangani komitmen bersama penanganan stunting di Kotim, Selasa (7/5/2024). (YUNI/RADAR SAMPIT)
PENANDATANGANAN: Ketua TP PKK Kotim Khairiah Halikinnor menandatangani komitmen bersama penanganan stunting di Kotim, Selasa (7/5/2024). (YUNI/RADAR SAMPIT)

 

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berkomitmen mencegah dan menanggulangi stunting dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sebagai salah satu strategi menghadapi bonus demografi pada tahun 2030. Data dari Dinas Kesehatan diketahui bahwa jumlah balita pendek dan sangat pendek di Kabupaten Kotim sebanyak 1.943 anak stunting.

“Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama semua pihak untuk lebih bersungguh-sungguh menjalankan program penurunan stunting yang menjadi tanggung jawab bersama,” kata Bupati Kotim Halikinnor yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Rodi Kamislam saat membuka acara Rembuk Stunting Kotim tahun 2024 di aula Bapperida Kotim.

Mengacu data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM) dari Dinas Kesehatan Kotim, jumlah balita pendek dan sangat pendek di Kabupaten Kotim sebanyak 1.943 anak atau 18 persen dari total 10.526 balita yang diukur pada bulan timbang Desember 2023.

Sedangkan berdasarkan pendataan keluarga tahun 2023 jumlah keluarga berisiko stunting sebanyak 20.319 keluarga atau 36,51 persen dari total 55.646 jumlah keluarga sasaran. “Fokus pada intervensi yang mempunyai daya ungkit bagi penurunan stunting, karena kita hanya mempunyai waktu kurang lebih enam bulan sedangkan target yang harus diturunkan masih cukup tinggi,” kata Rodi. Rembuk Stunting Kotim Tahun 2024 dihadiri oleh seluruh satuan organisasi perangkat daerah (SOPD), Ketua TP PKK Kotim Khairiah Halikinnor, Ketua TP PKK Kecamatan, camat, kepala puskesmas, dokter spesialis anak, ketua organisasi profesi, satgas stunting Kotim, dunia usaha, Apdesi dan pihak-pihak terkait lainnya.

Rembuk stunting merupakan salah satu tahapan pelaksanaan pencegahan dan penurunan stunting yang terintegrasi. Tujuannya,  membangun komitmen publik dalam pencegahan dan penurunan stunting  secara terintegrasi yang bertujuan untuk mendeklarasikan komitmen pemerintah daerah, menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi. Selain itu, menyampaikan hasil analisis situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting.

“Melalui rembuk stunting ini saya juga berharap akan dapat menghasilkan inovasi program dan kegiatan dalam penanganan stunting dimana salah satunya adalah kegiatan grebek stunting yang telah dilaksanakan pada bulan Desember 2023 lalu berupa pemberian susu dan telur kepada sebanyak 2.167 anak balita,” tuturnya. Selain itu dari rembuk stunting ini diharapkan dapat menghasilkan kesamaan pandang dan persepsi dalam penanganan stunting sehingga program dan kegiatan yang dilaksanakan perangkat daerah termasuk desa akan saling terintegrasi dan bersinergi.

Pada kegiatan tersebut dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama dalam upaya penanganan stunting yang dilakukan oleh lintas sektor. “Kami berkomitmen bersama untuk merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan pencegahan dan penurunan stunting,” imbuhnya. Penyelesaian masalah stunting tentunya tidak dapat dilakukan dalam jangka waktu yang singkat. Oleh sebab itu perlu adanya komitmen bersama agar penanganan masalah ini dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan.

“Masalah stunting tidak hanya menjadi tugas pemerintah daerah tetapi menjadi tugas kita semua, termasuk masyarakat, serta kepedulian dari pihak ketiga yang berada di wilayah terdekat dari lokasi desa lokus stunting,” tuturnya. Dalam penanganan stunting, keterlibatan banyak pihak harus diperkuat. Pengentasan stunting dilakukan secara terpadu serta butuh komitmen kuat dari semua sektor. “Oleh karena itu kepada semua pihak agar bisa membangun sinergi baik itu masyarakat, swasta organisasi, non pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya untuk terus melakukan percepatan penurunan stunting secara konvergensi dan pendekatan keluarga agar kita dapat menciptakan generasi sehat, cerdas dan unggul,” pungkasnya. (yn/yit) 

Editor : Indra Zakaria