Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Presiden Prancis Emmanuel Macron Stop Kirim Senjata ke Israel: Apa Dampaknya bagi Konflik di Gaza?

Redaksi • Senin, 7 Oktober 2024 - 19:19 WIB

Tank Israel
Tank Israel
 

Prokal.co, Presiden Prancis Emmanuel Macron memastikan untuk menghentikan suplai senjata ke Israel.

Dia juga mengkritik keputusan Israel yang mengirimkan pasukan ke Lebanon. Menurut Macron, eskalasi regional semestinya dihindari.

’’Saya pikir hari ini prioritasnya adalah kembali ke solusi politik, bahwa kita berhenti mengirim senjata untuk berperang di Gaza.

Prancis tidak mengirimkan (senjata, Red) apa pun,’’ ujarnya kepada penyiar France Inter dilansir dari Al Jazeera akhir pekan lalu (5/10).

Meski Prancis bukan penyedia senjata terdepan untuk Israel, keputusan itu membawa pengaruh signifikan.

Terutama untuk mencapai solusi politik atas kondisi di Gaza. Sebab, Prancis merupakan pemain kunci di Uni Eropa dan pada saat yang sama merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Sejatinya, Prancis tak sendirian. Pada September lalu, Inggris juga mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan beberapa ekspor senjata ke Israel.

Alasannya pun jelas, yakni adanya risiko yang nyata bahwa alat-alat tersebut dapat digunakan untuk pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Macron menegaskan kembali kekhawatirannya atas serangan dahsyat Israel terhadap Gaza yang terus berlanjut meski ada seruan berkali-kali untuk gencatan senjata.

’’Saya pikir kami tidak didengar. Saya pikir itu adalah kesalahan, termasuk untuk keamanan Israel,’’ ujarnya seraya menambahkan bahwa konflik tersebut mengarah pada ’’kebencian.

Macron juga mengkritik keputusan Netanyahu untuk mengirim pasukan ke operasi darat di Lebanon. Dia mengatakan bahwa prioritas seharusnya adalah menghindari eskalasi.

’’Rakyat Lebanon tidak boleh dikorbankan, Lebanon tidak boleh menjadi Gaza lainnya,’’ ujar presiden 46 tahun itu.

Yordania menyambut baik pernyataan pemimpin Prancis tersebut. Negara yang berbatasan dengan Tepi Barat dan Israel itu menekankan pentingnya memberlakukan larangan penuh atas ekspor senjata ke Israel.

Hal itu sebagai konsekuensi nyata atas tindakan negara tersebut. Komentar Macron disampaikan saat menteri luar negerinya, Jean-Noel Barrot, sedang dalam perjalanan empat hari ke Timur Tengah.

Perjalanan itu akan berakhir hari ini (7/10) di Israel. Prancis tengah berupaya memainkan peran dalam menghidupkan kembali upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata.

Sementara itu, pernyataan Macron tersebut membuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ngamuk. Dia menyebut hal itu sebagai aib yang memalukan.

’’Saat Israel memerangi kekuatan barbarisme yang dipimpin Iran, semua negara beradab harus berdiri teguh di sisi Israel. Namun, Presiden Macron dan para pemimpin Barat lainnya kini menyerukan embargo senjata terhadap Israel. Mereka harus malu,’’ ujar kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan. 

Menanggapi reaksi Netanyahu, kantor Macron menyebut reaksi Netanyahu berlebihan dan tidak memedulikan hubungan persahabatan antara Prancis dan Israel selama ini.

Pernyataan Macron dipandang sebagai pesan bagi Israel dan sekutu, khususnya Amerika Serikat, yang merupakan penyedia senjata terbesar bagi Israel.

Pada Mei lalu, Departemen Luar Negeri AS mengatakan tidak memiliki cukup bukti untuk memblokir pengiriman senjata ke Negara Yahudi itu.

Tetapi, menurut mereka, masuk akal untuk menilai bahwa Israel telah menggunakan senjata dengan cara yang tidak sesuai dengan standar hukum humaniter. (dee/c17/dio)

Editor : Indra Zakaria
#Israel #emmanuel marcon #konflik timur tengah #gaza #presiden prancis