Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Damaskus Jatuh, Kekuasaan Presiden Suriah Bashar al-Assad Tumbang

Indra Zakaria • Senin, 9 Desember 2024 - 02:56 WIB
Masyarakat merayakan jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad, di Lapangan Umayyah di Damaskus, 8 Desember 2024. (Foto: Louai Beshara/AFP)
Masyarakat merayakan jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad, di Lapangan Umayyah di Damaskus, 8 Desember 2024. (Foto: Louai Beshara/AFP)

Kelompok oposisi Suriah telah mengumumkan negara itu telah terbebas dari kekuasaan rezim Presiden Bashar al-Assad, Minggu dini hari (8/12/2024). Laporan itu disampaikan di televisi pemerintah, setelah pasukan oposisi berhasil menguasai Damaskus, ibu kota Suriah.

Al-Assad dilaporkan melarikan diri ke tujuan yang tidak diketahui, dan menandai akhir dari pemerintahannya selama 24 tahun. Runtuhnya kekuasaan keluarga al-Assad, yang telah memimpin Suriah selama lebih dari 53 tahun, dianggap sebagai peristiwa bersejarah. Momen ini terjadi hampir 14 tahun setelah rakyat Suriah memulai protes damai yang berubah menjadi perang saudara berdarah akibat represi pemerintah.


Serangan Besar-besaran Oposisi

Keberhasilan oposisi tidak lepas dari operasi militer besar-besaran yang mereka sebut "Operasi Pencegahan Agresi" yang dimulai pada 27 November lalu. Koalisi pejuang oposisi yang dipimpin oleh Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menyerang garis depan antara Idlib dan Aleppo. Hanya dalam waktu tiga hari, mereka berhasil merebut Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah.

Didukung oleh kelompok-kelompok seperti Front Nasional untuk Pembebasan, Ahrar al-Sham, Jaish al-Izza, dan faksi-faksi yang didukung Turki, pasukan oposisi terus maju dengan cepat, merebut Hama, Homs, dan Deraa, tempat lahirnya pemberontakan tahun 2011.

Pemimpin HTS, Abu Mohammed al-Julani, menyatakan bahwa lembaga publik akan tetap beroperasi di bawah pengawasan hingga transisi pemerintahan selesai.

Abu Mohammed al-Julani mengatakan al-Jalali, yang ditunjuk sebagai perdana menteri oleh al-Assad pada September lalu, akan tetap memegang kendali hingga masa transisi.

Ditandatangani dengan nama aslinya, Ahmed al-Sharaa, al-Julani melarang pasukan militer di Damaskus mendekati tempat-tempat umum dan melarang tembakan ke udara.

Faktor Keruntuhan

Ekonomi yang hancur, ketergantungan pada perdagangan gelap Captagon, dan ketidakpuasan publik menjadi faktor utama keruntuhan rezim al-Assad. Dukungan militer dari Rusia dan Iran yang sebelumnya menjadi andalan rezim juga melemah akibat konflik regional dan internasional lainnya.

Banyak tentara pemerintah yang melarikan diri sebelum pasukan oposisi menyerang, mempercepat jatuhnya kekuasaan al-Assad. Menurut laporan yang dilansir dari Al Jazeera, Bashar al-Assad meninggalkan Suriah melalui Bandara Internasional Damaskus sebelum bandara itu jatuh ke tangan oposisi.

Reuters melaporkan pada dini hari Bashar al-Assad telah menaiki pesawat dan berangkat ke tujuan yang tidak diketahui. Sinyal penerbangan terakhir yang lepas landas dari Damaskus, menghilang tak lama setelah lepas landas.

Perdana Menteri Mohammad Ghazi al-Jalali mengatakan, bahwa al-Assad dan Menteri Pertahanan Ali Abbas tidak diketahui keberadaannya sejak Sabtu malam. Namun, al-Jalali sendiri masih berada di Suriah dan menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah transisi.

"Saya tidak akan pergi dan tidak bermaksud untuk pergi. Saya berharap agar kelangsungan lembaga-lembaga negara, lembaga-lembaga negara, dan aparatur negara dapat terjamin secara damai, serta keselamatan dan keamanan seluruh warga negara dapat terjamin," katanya dalam sebuah pernyataan video.

Perayaan dan Harapan Baru


Warga Suriah menyambut deklarasi kebebasan ini dengan perayaan besar di berbagai kota, termasuk Damaskus dan Homs. Patung Hafez al-Assad, ayah Bashar, diruntuhkan. Para tahanan politik dibebaskan dari penjara yang terkenal kejam seperti Sednaya.

Meski begitu, masa depan Suriah masih belum jelas. Baik oposisi maupun pemerintah transisi menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali negara yang hancur akibat konflik.

“Suriah bisa menjadi negara yang normal, tetapi keberhasilan ini tergantung pada kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat Suriah,” ujar al-Jalali dalam pernyataannya.Deklarasi kebebasan ini menandai era baru bagi Suriah, namun tantangan besar menanti di depan.

Bagi yang memiliki anggota keluarga, rumah, dan real estate di Suriah, ini adalah kabar baik. Mereka dapat kembali ke rumah. Dunia akan terus memantau bagaimana negara ini membangun kembali setelah lebih dari satu dekade berada dalam bayang-bayang konflik. Mazloum Abdi, komandan umum Pasukan Demokratik Suriah (SDF), mengatakan Suriah sedang menyaksikan momen bersejarah dan jatuhnya rezim otoriter.

“Perubahan ini adalah kesempatan untuk membangun Suriah baru berdasarkan demokrasi dan keadilan yang menjamin hak-hak semua warga Suriah,” tulis komandan pasukan yang dipimpin Kurdi dan didukung AS itu, dalam sebuah posting di X.

Reaksi Internasional

Geir Pedersen, utusan khusus PBB untuk Suriah, menyerukan kepada semua pihak bersenjata untuk menjaga perilaku baik, melindungi warga sipil, dan mempertahankan institusi publik.

“Marilah kita menghormati kenangan mereka yang telah menderita selama puluhan tahun dengan berkomitmen membantu rakyat Suriah membangun negara yang adil, bebas, dan makmur,” kata Pedersen seperti dilansir dari Al Jazeera.

Daniel Shapiro, Deputi Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk Timur Tengah, juga meminta semua pihak untuk melindungi warga sipil dan mendukung transisi politik yang inklusif. Ia menegaskan bahwa keberadaan pasukan AS di Suriah timur untuk melawan ISIS tidak terkait dengan aspek lain dari konflik di negara itu.(*)

 

 

 

Editor : Indra Zakaria
#suriah #Bashar al-Assad