Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kim Jong Un Instruksikan Tambah Produksi Rudal Massive, Persiapkan Militer Korut Hadapi 2026

Redaksi Prokal • 2025-12-27 09:29:42
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. (ANTARA/KCNA via Xinhua/am.)
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. (ANTARA/KCNA via Xinhua/am.)

ANKARA – Pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut), Kim Jong Un, secara resmi menginstruksikan peningkatan kapasitas produksi rudal dan amunisi secara besar-besaran. Perintah ini disampaikan Kim saat melakukan peninjauan langsung ke sejumlah perusahaan industri persenjataan strategis negara tersebut.

Dalam laporan yang dirilis kantor berita pemerintah KCNA pada Jumat (26/12/2025), Kim menekankan bahwa penguatan sektor alutsista merupakan pilar utama dalam memenuhi kebutuhan operasional Tentara Rakyat Korea (KPA).

Selama kunjungannya, Kim menerima laporan mendetail mengenai pencapaian produksi peluru artileri dan rudal sepanjang tahun 2025, termasuk performa produksi di kuartal keempat yang disebut mencapai target. Namun, Kim menegaskan bahwa capaian tersebut harus terus ditingkatkan.

"Fondasi teknis perusahaan produksi terkait perlu diperkuat secara seimbang guna memperluas kapasitas produksi secara menyeluruh," ujar Kim sebagaimana dikutip dari KCNA.

Kim juga secara spesifik mengarahkan agar industri pertahanan mulai menyusun rencana produksi berorientasi pengembangan untuk tahun 2026. Hal ini ditujukan untuk memastikan pasukan rudal dan artileri Korut memiliki kesiapan tempur jangka panjang di masa depan.

Selain fokus pada amunisi darat, perhatian Kim Jong Un juga tertuju pada kekuatan laut. Pada Kamis (25/12), Kim meninjau proyek ambisius pembangunan kapal selam strategis bertenaga nuklir berbobot 8.700 ton. Kapal selam ini dirancang memiliki kemampuan peluncuran rudal balistik bawah air.

Langkah ini disebut-sebut sebagai respon langsung terhadap dinamika keamanan di Semenanjung Korea. Kim menilai rencana kerja sama Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam pengembangan kapal selam bertenaga nuklir sebagai ancaman nyata.

"Langkah AS dan Korea Selatan merupakan tindakan ofensif yang mengancam stabilitas kawasan," tulis laporan tersebut mengutip pernyataan Kim.

Modernisasi industri persenjataan melalui pembangunan fasilitas baru dan peningkatan teknologi pabrik yang ada dinilai Kim sebagai instrumen krusial dalam memperkuat daya tangkal perang (war deterrence) Korea Utara.

Meskipun laporan KCNA tidak merinci lokasi persis maupun waktu kunjungan tersebut, langkah ini mengirimkan sinyal kuat kepada dunia internasional bahwa Pyongyang tetap memprioritaskan kekuatan militer di tengah sanksi global yang masih membayangi. (*)

Editor : Indra Zakaria